Selasa, 30 Juni 2009

Belajar dari rajawali

ENAM PELAJARAN DARI RAJAWALI TENTANG KEPEMIMPINAN

RAJAWALI ADALAH MAKHLUK CIPTAAN TUHAN YANG SANGAT INDAH. SEEKOR RAJAWALI DEWASA MEMILIKI TINGGI BADAN SEKITAR 90 CM, DAN BENTANGAN SAYAP SEPANJANG 2M. IA MEMBANGUN SARANGNYA DI PUNCAK-PUNCAK GUNUNG. SARANG ITU SANGAT BESAR SEHINGGA MANUSIA PUN DAPAT TIDUR DIDALAMNYA. SARANG ITU BERATNYA BISA MENCAPAI 700 KG DAN SANGAT NYAMAN.

PELAJARAN I
SEMUA BAYI RAJAWALI HARUS BELAJAR UNTUK TERBANG

Di atas puncak gunung yang tinggi, telur rajawali menetas dan muncullah bayi rajawali. Seperti layaknya bayi yang lain, hanya ada dua hal yang sangat disukai oleh bayi rajawali ini untuk dilakukan, yaitu makan dan tidur. Bayi rajawali akan menghabis kan masa-masa pertamanya di dunia di dalam sarangnya yang nyaman. Setiap hari, induk rajawali mencarikan makanan untuk bayinya dan menyuapi mulut bayi yang sudah terbuka untuk menerima makanan. Dengan perut kenyang, bayi itu tidur kembali. Hal itu berlangsung berulang-ulang dalam hidupnya. Siklus ini berjalan beberapa minggu, sampai pada suatu hari, induk rajawali ini terbang dan hanya berputar-putar di atas sarangnya memperhatikan anaknya yang ada didalamnya. Kali ini tanpa makanan.

Setelah berputar beberapa kali, induk rajawali akan terbang dengan kecepatan tinggi menuju sarangnya, ditabraknya sarang itu dan digoncang-goncangkannya. Kemudian ia merenggut anaknya dari sarang dan dibawanya terbang tinggi. Kemudian, secara tiba-tiba, ia menjatuhkan bayi rajawali dari ketinggian. Bayi ini berusaha terbang, tapi gagal. Beberapa saat jatuh melayang ke bawah mendekati batu-batu karang, induk rajawali ini dengan cepat meraih anaknya kembali dan dibawa terbang tinggi. Setelah itu, dilepaskannya pegangan itu dan anaknya jatuh lagi. Tapi sebelum anaknya menyentuh daratan, ia mengangkatnya kembali. Hal ini dilakukan berulang-ulang, setiap hari. Hingga hanya dalam waktu satu minggu anaknya sudah banyak belajar, dan mulai memperhatikan bagaimana induknya terbang.Dalam jangka waktu itu, sayap anak rajawali sudah kuat dan ia pun mulai bisa terbang.

MAKNA PELAJARAN I :

Banyak orang seperti bayi rajawali ini. Terlalu nyaman di dalam sarangnya (hidup dalam comfort zone). Kita tinggal menunggu disuapi (dengan tugas-tugas, dengan “makanan” spiritual/ rohani), tidak berusaha “menjemput bola” dan aktif mencari. Kemudian pulang dari aktivitas selanjutnya “tidur” lagi, dan hidup tidak berubah. Baru setelah beban-beban berat (stress dan depresi) menindih, kita merasakan “lapar” dan butuh diisi makanan. Hal ini berlangsung terus menerus berulang-ulang tanpa ada pertumbuhan mental – psikologis dalam hidup kita. Sampai suatu saat, sesuatu “cobaan” terjadi didalam hidup kita, sarang digoncangkan dengan keras, dan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kita mulai menyalahkan faktor-faktor yang ada diluar kita (atasan, rekan kerja, orang tua dll), bahkan tidak jarang menyalahkan Tuhan, “Tuhan jahat, Tuhan tidak adil!....”

Jika kita mengalami masalah, rintangan, cobaan, godaan berarti kita sedang dilatih untuk bisa lebih dewasa lagi, agar kita bisa siap untuk terbang. Akan sia-sia menjadi rajawali kalau dia tidak bisa terbang.

Sebagai seorang “pemimpin” tidak akan membiarkan bawahan nya jatuh tergeletak, tetapi seperti induk rajawali, pada saat kritis, ia menyambar anaknya untuk diangkat kembali. Masa- masa sukar akan selalu ada di depan kita, tetapi dengan komitmen dan hasrat kita akan menemukan diri kita selalu penuh harapan, karena kita sedang merentangkan sayap, kita sedang belajar terbang! Lewat masalah-masalah, rintangan- rintangan ......... Kita belajar untuk terbang, kita belajar untuk mengepakkan sayap kita.

PELAJARAN II
RAJAWALI DICIPTAKAN UNTUK TINGGAL DI TEMPAT TINGGI

Berbeda dengan jenis burung lainnya, rajawali diciptakan untuk terbang di tempat-tempat yang tinggi, jauh dari pandangan mata telanjang dan jauh dari jangkauan para pemburu. Burung rajawali memiliki keunikan, jika ia berada di alam bebas, akan menjadi burung yang paling bersih di antara burung-burung lainnya, tapi jika dia berada di dalam “penjara” dan terikat, ia akan menjadi burung yang paling kotor (hal ini dikarenakan rajawali mengkonsumsi makanan yang berbeda dengan burung lainnya)

Pepatah mengatakan “you are what you eat” , sebagai seorang pemimpin harus bisa memberikan delegasi kepada bawahan, untuk terbang pada ketinggian alam bebas (bisa memperguna kan “helicopter view”.... Melihat dari ketinggian)

PELAJARAN III
RAJAWALI TIDAK TERBANG, TAPI MELAYANG

Rajawali tidak terbang seperti layaknya burung-burung yang lain, mereka terbang dengan mengepak-ngepakkan sayapnya dengan kekuatan sendiri. Tapi yang dilakukan rajawali ialah melayang dengan anggun, membuka lebar-lebar kedua sayap nya dan menggunakan kekuatan angin untuk mendorong tubuhnya. Yang membuat rajawali sangat spesial ialah ia tahu betul waktu yang tepat untuk meluncur terbang. Ia berdiam di atas puncak gunung karang, membaca keadaan angin, dan pada saat yang dirasa tepat, ia mengepakkan sayapnya untuk mendorong terbang, lalu membuka sayapnya lebar-lebar untuk kemudian melayang dengan menggunakan kekuatan angin itu.

Seringkali kita “terbang” dengan kekuatan kita sendiri, alhasil kita menemui banyak kelelahan, kekecewaan dan kepahitan dalam hidup ini. Tetapi belajar dari rajawali, kita mau untuk “terbang” melintasi kehidupan ini dengan mengandalkan kehadiran “orang lain” (interdependency) Angin juga menggambarkan kesulitan-kesulitan hidup, yang kadangkala menjadi badai “tzunami”. Bagi rajawali, badai adalah media yang tepat untuk belajar menguatkan sayapnya. Dia terbang menembus badai itu, melayang didalamnya, melatih sayapnya untuk lebih kuat lagi. Cobaan dan rintangan seharusnya kita syukuri, karena saat itulah yang tepat bagi kita untuk mempergunakan cobaan dan rintangan sebagai media untuk menguatkan sayap- sayap “kepribadian” kita.

PELAJARAN IV
RAJAWALI MEMILIKI WAKTU KHUSUS UNTUK PEMBAHARUAN

Ketika rajawali berumur 60 tahun, ia memasuki periode pembaharuan. Seekor rajawali akan mencari tempat tinggi dan ter sembunyi di puncak gunung. Ia berdiam disitu, membiarkan bulu-bulunya rontok satu demi satu. Rajawali ini mengalami keadaan yang menyakitkan dan sangat mengenaskan selama kira-kira 1 tahun. Ia menunggu dengan sabar selama proses ini berlangsung, dan setiap hari ia membiarkan sinar matahari menyinari tubuhnya untuk mempercepat proses penyembuhan nya. Melalui proses ini, bulu-bulu barupun tumbuh, dan rajawali menerima kekuatan yang baru sehingga ia mampu untuk bertahan hidup hingga umur 120 tahun, seperti normal nya rajawali hidup.

Seperti rajawali, kita perlu memiliki waktu-waktu khusus (pitstop kehidupan) untuk proses pembaharuan dalam hidup ini. Membiarkan hal-hal lama yang tidak berguna lagi “rontok” dan menantikan dengan sabar pemulihan dan pembaharuan terjadi.

Saat-saat tertentu dalam hidup kita dapat kita pergunakan untuk meningkatkan “KP” (Kemampuan Produksi atau Production Capability – istilah Steven Covey) kita, melakukan dialog secara vertikal dengan Sang Pencipta ......... Merencanakan kehidupan yang baru, membuang cara hidup yang lama.

PELAJARAN V
RAJAWALI JUGA KADANG-KADANG SAKIT

Ketika rajawali mengalami sakit di tubuhnya, ia terbang ke suatu tempat yang sangat disukainya,dimana ia dengan leluasa dapat menikmati sinar matahari. Karena sinar matahari memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan rajawali, dan juga merupakan obat paling mujarab baginya.

Ketika kita sakit, baik itu sakit secara fisik, psikologis, mental, rohani, ekonomi, rumah tangga, pekerjaan, kemana kita akan “pergi” untuk menggapai kesembuhan atas sakit-sakit tersebut?

Ketika rajawali menikmati sinar matahari untuk kesembuhannya, obat apa yang kita cari untuk kesembuhan kita?

PELAJARAN VI
SETIAP BURUNG RAJAWALI PASTI MATI

Ketika rajawali berada dalam keadaan mendekati waktu kematiannya, ia terbang ke tempat yang paling disukainya, di atas gunung, menutupi tubuhnya dengan kedua sayapnya, me mandang ke arah terbitnya matahari, lalu......mati.

Kemana arah mata dan hati kita akan kita tujukan pada saat kematian akan menjelang? Mati secara fisik, psikologis, mental emosional, rohani, ekonomi, rumah tangga, pekerjaan ........ Kemana mata dan hati kita akan diarahkan?

Pada saat “kain kafan” menutupi tubuh, model “kain kafan” apa yang akan dikenakan pada kita?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar