Selasa, 30 Juni 2009

Belajar dari rajawali

ENAM PELAJARAN DARI RAJAWALI TENTANG KEPEMIMPINAN

RAJAWALI ADALAH MAKHLUK CIPTAAN TUHAN YANG SANGAT INDAH. SEEKOR RAJAWALI DEWASA MEMILIKI TINGGI BADAN SEKITAR 90 CM, DAN BENTANGAN SAYAP SEPANJANG 2M. IA MEMBANGUN SARANGNYA DI PUNCAK-PUNCAK GUNUNG. SARANG ITU SANGAT BESAR SEHINGGA MANUSIA PUN DAPAT TIDUR DIDALAMNYA. SARANG ITU BERATNYA BISA MENCAPAI 700 KG DAN SANGAT NYAMAN.

PELAJARAN I
SEMUA BAYI RAJAWALI HARUS BELAJAR UNTUK TERBANG

Di atas puncak gunung yang tinggi, telur rajawali menetas dan muncullah bayi rajawali. Seperti layaknya bayi yang lain, hanya ada dua hal yang sangat disukai oleh bayi rajawali ini untuk dilakukan, yaitu makan dan tidur. Bayi rajawali akan menghabis kan masa-masa pertamanya di dunia di dalam sarangnya yang nyaman. Setiap hari, induk rajawali mencarikan makanan untuk bayinya dan menyuapi mulut bayi yang sudah terbuka untuk menerima makanan. Dengan perut kenyang, bayi itu tidur kembali. Hal itu berlangsung berulang-ulang dalam hidupnya. Siklus ini berjalan beberapa minggu, sampai pada suatu hari, induk rajawali ini terbang dan hanya berputar-putar di atas sarangnya memperhatikan anaknya yang ada didalamnya. Kali ini tanpa makanan.

Setelah berputar beberapa kali, induk rajawali akan terbang dengan kecepatan tinggi menuju sarangnya, ditabraknya sarang itu dan digoncang-goncangkannya. Kemudian ia merenggut anaknya dari sarang dan dibawanya terbang tinggi. Kemudian, secara tiba-tiba, ia menjatuhkan bayi rajawali dari ketinggian. Bayi ini berusaha terbang, tapi gagal. Beberapa saat jatuh melayang ke bawah mendekati batu-batu karang, induk rajawali ini dengan cepat meraih anaknya kembali dan dibawa terbang tinggi. Setelah itu, dilepaskannya pegangan itu dan anaknya jatuh lagi. Tapi sebelum anaknya menyentuh daratan, ia mengangkatnya kembali. Hal ini dilakukan berulang-ulang, setiap hari. Hingga hanya dalam waktu satu minggu anaknya sudah banyak belajar, dan mulai memperhatikan bagaimana induknya terbang.Dalam jangka waktu itu, sayap anak rajawali sudah kuat dan ia pun mulai bisa terbang.

MAKNA PELAJARAN I :

Banyak orang seperti bayi rajawali ini. Terlalu nyaman di dalam sarangnya (hidup dalam comfort zone). Kita tinggal menunggu disuapi (dengan tugas-tugas, dengan “makanan” spiritual/ rohani), tidak berusaha “menjemput bola” dan aktif mencari. Kemudian pulang dari aktivitas selanjutnya “tidur” lagi, dan hidup tidak berubah. Baru setelah beban-beban berat (stress dan depresi) menindih, kita merasakan “lapar” dan butuh diisi makanan. Hal ini berlangsung terus menerus berulang-ulang tanpa ada pertumbuhan mental – psikologis dalam hidup kita. Sampai suatu saat, sesuatu “cobaan” terjadi didalam hidup kita, sarang digoncangkan dengan keras, dan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kita mulai menyalahkan faktor-faktor yang ada diluar kita (atasan, rekan kerja, orang tua dll), bahkan tidak jarang menyalahkan Tuhan, “Tuhan jahat, Tuhan tidak adil!....”

Jika kita mengalami masalah, rintangan, cobaan, godaan berarti kita sedang dilatih untuk bisa lebih dewasa lagi, agar kita bisa siap untuk terbang. Akan sia-sia menjadi rajawali kalau dia tidak bisa terbang.

Sebagai seorang “pemimpin” tidak akan membiarkan bawahan nya jatuh tergeletak, tetapi seperti induk rajawali, pada saat kritis, ia menyambar anaknya untuk diangkat kembali. Masa- masa sukar akan selalu ada di depan kita, tetapi dengan komitmen dan hasrat kita akan menemukan diri kita selalu penuh harapan, karena kita sedang merentangkan sayap, kita sedang belajar terbang! Lewat masalah-masalah, rintangan- rintangan ......... Kita belajar untuk terbang, kita belajar untuk mengepakkan sayap kita.

PELAJARAN II
RAJAWALI DICIPTAKAN UNTUK TINGGAL DI TEMPAT TINGGI

Berbeda dengan jenis burung lainnya, rajawali diciptakan untuk terbang di tempat-tempat yang tinggi, jauh dari pandangan mata telanjang dan jauh dari jangkauan para pemburu. Burung rajawali memiliki keunikan, jika ia berada di alam bebas, akan menjadi burung yang paling bersih di antara burung-burung lainnya, tapi jika dia berada di dalam “penjara” dan terikat, ia akan menjadi burung yang paling kotor (hal ini dikarenakan rajawali mengkonsumsi makanan yang berbeda dengan burung lainnya)

Pepatah mengatakan “you are what you eat” , sebagai seorang pemimpin harus bisa memberikan delegasi kepada bawahan, untuk terbang pada ketinggian alam bebas (bisa memperguna kan “helicopter view”.... Melihat dari ketinggian)

PELAJARAN III
RAJAWALI TIDAK TERBANG, TAPI MELAYANG

Rajawali tidak terbang seperti layaknya burung-burung yang lain, mereka terbang dengan mengepak-ngepakkan sayapnya dengan kekuatan sendiri. Tapi yang dilakukan rajawali ialah melayang dengan anggun, membuka lebar-lebar kedua sayap nya dan menggunakan kekuatan angin untuk mendorong tubuhnya. Yang membuat rajawali sangat spesial ialah ia tahu betul waktu yang tepat untuk meluncur terbang. Ia berdiam di atas puncak gunung karang, membaca keadaan angin, dan pada saat yang dirasa tepat, ia mengepakkan sayapnya untuk mendorong terbang, lalu membuka sayapnya lebar-lebar untuk kemudian melayang dengan menggunakan kekuatan angin itu.

Seringkali kita “terbang” dengan kekuatan kita sendiri, alhasil kita menemui banyak kelelahan, kekecewaan dan kepahitan dalam hidup ini. Tetapi belajar dari rajawali, kita mau untuk “terbang” melintasi kehidupan ini dengan mengandalkan kehadiran “orang lain” (interdependency) Angin juga menggambarkan kesulitan-kesulitan hidup, yang kadangkala menjadi badai “tzunami”. Bagi rajawali, badai adalah media yang tepat untuk belajar menguatkan sayapnya. Dia terbang menembus badai itu, melayang didalamnya, melatih sayapnya untuk lebih kuat lagi. Cobaan dan rintangan seharusnya kita syukuri, karena saat itulah yang tepat bagi kita untuk mempergunakan cobaan dan rintangan sebagai media untuk menguatkan sayap- sayap “kepribadian” kita.

PELAJARAN IV
RAJAWALI MEMILIKI WAKTU KHUSUS UNTUK PEMBAHARUAN

Ketika rajawali berumur 60 tahun, ia memasuki periode pembaharuan. Seekor rajawali akan mencari tempat tinggi dan ter sembunyi di puncak gunung. Ia berdiam disitu, membiarkan bulu-bulunya rontok satu demi satu. Rajawali ini mengalami keadaan yang menyakitkan dan sangat mengenaskan selama kira-kira 1 tahun. Ia menunggu dengan sabar selama proses ini berlangsung, dan setiap hari ia membiarkan sinar matahari menyinari tubuhnya untuk mempercepat proses penyembuhan nya. Melalui proses ini, bulu-bulu barupun tumbuh, dan rajawali menerima kekuatan yang baru sehingga ia mampu untuk bertahan hidup hingga umur 120 tahun, seperti normal nya rajawali hidup.

Seperti rajawali, kita perlu memiliki waktu-waktu khusus (pitstop kehidupan) untuk proses pembaharuan dalam hidup ini. Membiarkan hal-hal lama yang tidak berguna lagi “rontok” dan menantikan dengan sabar pemulihan dan pembaharuan terjadi.

Saat-saat tertentu dalam hidup kita dapat kita pergunakan untuk meningkatkan “KP” (Kemampuan Produksi atau Production Capability – istilah Steven Covey) kita, melakukan dialog secara vertikal dengan Sang Pencipta ......... Merencanakan kehidupan yang baru, membuang cara hidup yang lama.

PELAJARAN V
RAJAWALI JUGA KADANG-KADANG SAKIT

Ketika rajawali mengalami sakit di tubuhnya, ia terbang ke suatu tempat yang sangat disukainya,dimana ia dengan leluasa dapat menikmati sinar matahari. Karena sinar matahari memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan rajawali, dan juga merupakan obat paling mujarab baginya.

Ketika kita sakit, baik itu sakit secara fisik, psikologis, mental, rohani, ekonomi, rumah tangga, pekerjaan, kemana kita akan “pergi” untuk menggapai kesembuhan atas sakit-sakit tersebut?

Ketika rajawali menikmati sinar matahari untuk kesembuhannya, obat apa yang kita cari untuk kesembuhan kita?

PELAJARAN VI
SETIAP BURUNG RAJAWALI PASTI MATI

Ketika rajawali berada dalam keadaan mendekati waktu kematiannya, ia terbang ke tempat yang paling disukainya, di atas gunung, menutupi tubuhnya dengan kedua sayapnya, me mandang ke arah terbitnya matahari, lalu......mati.

Kemana arah mata dan hati kita akan kita tujukan pada saat kematian akan menjelang? Mati secara fisik, psikologis, mental emosional, rohani, ekonomi, rumah tangga, pekerjaan ........ Kemana mata dan hati kita akan diarahkan?

Pada saat “kain kafan” menutupi tubuh, model “kain kafan” apa yang akan dikenakan pada kita?

Selasa, 28 April 2009

2 ekor burung pipit dan anak burung ketilang

“TUHAN, jadikanlah aku seperti burung pipit yang tetap ingin menolong anak burung kutilang, walaupun dia tahu bahwa anak burung kutilang itu bukanlah anaknya dan lebih besar darinya”

Kemarin putri saya (4 tahun) menemukan seekor anak burung nyemplok di pagar teras rumah. Bu De (pembantu kami) memasukkannya ke dalam sangkar yang sudah lama kosong dan diberi air minum serta makanan burung. Tadi pagi anak saya ingin melihat anak burung itu. Dia minta saya menurunkan sangkar burung yang letaknya tidak terjangkau olehnya. Anak burung itu masih hidup. Kepalanya masih botak belum sempurna ditutupi oleh bulu. Lemas. Kelihatannya tidak makan dan minum. Mungkin belum tahu caranya minum dan makan dari tempat yang sudah tersedia dalam sangkar.
Dari ciri-cirinya mungkin anak burung itu sejenis burung kutilang. Tapi bagaimana dia sampai nyemplok di pagar teras rumah kami? Bu De bilang, “Itu mungkin anak burung pipit yang jatuh dari sarangnya di pohon mangga”. Memang di halaman depan rumah kami tumbuh subur pohon mangga. Burung pipit selalu bersarang di sana. Ada 3 hingga 4 sarang burung pipit di pohon itu. Tapi, anak burung itu bukan anak burung pipit. Tubuhnya terlalu besar, paruhnya terlalu runcing dan bulunya terlalu lebar dan panjang. Warnanya juga agak kuning. Suaranya juga lebih berat daripada suara burung pipit. Lebih mirip anak burung kutilang.
Rasanya agak mustahil kalau anak burung itu terbang dari sarangnya dari tempat jauh. Terbangnya belum sempurna. Anak saya saja dapat menangkapnya. Tidak ada pohon atau semak di sekitar rumah yang cocok jadi tempat burung kutilang bersarang. Induk burung kutilang pun jarang di sekitar rumah. Jika induknya ada di sekitar rumah, biasanya akan ribut mencari anaknya.
Anak saya berusaha menyuapi anak burung itu dengan air minum dan makanan burung. Namun nampaknya sia-sia. Anak burung itu malah kelihatan tersiksa. Dan kalau terus begitu, kelihatannya akan mati.
Mungkin lebih baik dilepas saja. Di alam bebas anak burung itu akan belajar bertahan hidup. Tubuhnya akan lebih kuat. Bulu dan sayapnya akan lebih kuat untuk dapat terbang sempurna. Dan mudah-mudahan induknya menghampiri. Saya coba membantunya agar nyemplok di ranting pohon mangga. Berkali-kali saya bantu, berkali-kali pula jatuh kembali. Akhirnya saya coba melemparkannya ke atas dengan lembut. Ternyata dia mengepakkan sayapnya dan berhasil menjangkau ranting pohon mangga.
Ketika proses mengepakkan sayap itu dan mencoba mendarat di sebuah ranting itulah dua ekor burung pipit terbang menghampirinya. Sambil bersuit-suit lembut burung pipit itu seolah-olah mengajari anak burung kutilang itu bagaimana caranya terbang dan mendarat dengan mulus. Kedua ekor burung pipit itu bergantian lompat sana lompat sini sambil berkicau di sekitar burung kutilang. Mungkin mereka mencoba berkomunikasi dengan caranya sendiri.
Anak burung kutilang itu kelihatannya menikmati komunikasi itu. Sayapnya dikibas-kibaskan dan tubuhnya seperti diguncang-guncangkan. Persis seperti anak saya ketika menyambut saya atau istri saya pulang kerja.
Demikianlah, sedikit demi sedikit anak burung kutilang itu melompat-lompat kecil sambil mencoba terbang pendek. Beberapa saat kemudian terlindung di antara daun mangga yang rindang dan akhirnya tidak kelihatan. Saya pun tidak melihatnya lagi. Suaranya masih sesekali terdengar dari antara rimbunnya pohon mangga. Saling bergantian antara kicauan burung pipit dan anak burung kutilang.
Saya duduk termenung di kursi taman yang ada di bawah pohon mangga. TUHAN telah berbicara kepada saya lewat anak burung kutilang dan dua ekor burung pipit itu.
Beberapa jenis burung memang ada yang menitipkan telurnya ke dalam sarang burung jenis lain agar ditetaskan. Tidak jelas alasannya. Mungkin saja burung tersebut tidak dapat membuat sarang sendiri, malas membangun sarang, suhu tubuhnya tidak cocok untuk mengerami telurnya, atau mungkin tidak mau repot dengan urusan mengerami telur hingga membesarkan anak. Tetapi sepanjang pengetahuan saya, burung kutilang tidak termasuk jenis burung yang berkarakter “titip telur”. Burung kutilang membuat sarang sendiri dan mengerami serta merawat anak sendiri. Sarangnya cukup nyaman, walaupun tidak senyaman sarang burung pipit apalagi sarang burung manyar.
Burung yang dititipin telur mengerami telur titipan hingga menetas dan bahkan hingga sanggup mandiri. Burung induk semang itu kemungkinan besar tahu bahwa telur tersebut bukan telurnya. TUHAN mengaruniakan insting yang tajam bagi ciptaanNya. Ukuran dan warnanya saja kebanyakan berbeda jauh dari telurnya sendiri. Tetapi kenapa burung induk semang itu tetap mengerami telur dan merawatnya hingga dewasa?
Beberapa jenis burung penitip telur bahkan menyingkirkan telur asli burung induk semang agar telurnya sendiri muat dalam sarang. Sebagian di antaranya bahkan memecahkan telur asli tersebut dan menyedot isinya. Sangat egois dan sadis. Tetapi burung induk semang memaafkannya. Dia tetap mengerami telur tersebut, membolak-balikkannya agar panas tubuhnya merata di setiap permukaan telur. Bahkan ada telur tertentu yang harus dijaga posisi atas dan bawah jangan sampai terbalik.
Sama seperti ayam yang mengerami dan menetaskan telur bebek. Ayam mungkin tahu bahwa ukuran telur bebek itu bukan ukuran telurnya sendiri. Warnanya pun lebih biru dan baunya pun lebih menyengat. Waktu eramnya pun seminggu lebih lama dari telurnya sendiri. Tetapi ayam tetap mengerami dan menetaskannya.
Ketika anak bebek menetas, ayam pun sudah tahu bahwa suara anak bebek itu lebih cerewet, paruhnya lebih pipih dan bulunya lebih halus. Bahkan ketika suka berenang daripada mengais, ayam pun mungkin tahu bahwa anak itu anak bebek, bukan anak ayam. Tapi adakah induk ayam yang menelantarkan anak bebek yang ditetaskannya? Atau, adakah induk ayam yang dendam kepada induk bebek sehingga menabuh genderang perang permusuhan? Sepanjang sejarah peradaban belum ada cerita atau dongeng yang mengisahkan dendam kesumat induk ayam kepada induk bebek. Sebaliknya, tidak ada pula kisah tentang ungkapan terimakasih induk bebek kepada induk ayam yang telah membuat regenarasi bebek berlangsung hingga kini.
Merenungkan hal tersebut di atas, ingin rasanya saya mengucapkan doa seperti doa pembuka di atas. Burung pipit itu tetap tulus membantu anak burung kutilang itu bertahan mengarungi kehidupan. Walaupun kedua burung pipit itu sudah mendengar suara (bahasa) yang berbeda, ukuran tubuh yang lebih besar, bulu dan sayap yang lebih lebar dan panjang. Burung pipit tetap setia, ikhlas, tulus.
Bukankah manusia cenderung memilih-milih teman yang ingin diajak kerjasama atau untuk ditolong? Deretan check list berikut selalu muncul dalam pikiran kita: seagamakah, sesukukah, sedarahkah, dan lain sebagainya.
Tidak ada jaminan anak burung kutilang itu akan bertahan hidup atau tidak. Tetapi burung pipit yang kecil telah menunjukkan kebesarannya dengan menolong burung kutilang yang lebih besar agar berjuang mengarungi kehidupan.
Selamat berjuang anak burung kutilang!
Terimakasih burung pipit yang telah menjadi media TUHAN menunjukkan kasihNya!
Puji Syukur TUHAN yang telah menyapaku hari ini.
Posted by Nasun Datpan Dita at 4/16/2009 04:03:00 PM 0 comments
Labels: menolong tanpa pamrih

Minggu, 12 April 2009

Hari ini Pembelajar Sukses Mulia mulai pembelajaran baru di TDW University

Senin, 30 Maret 2009

Pembelajaran dari sejumput tragedy


Ditengah proses pembelajaran untuk menjadi SuksesMulia, perkenankan saya merenung sejenak:


Proses Pembelajaran dari sejumput tragedy

Subuh penuh pembelajaran
Selepas sholat subuh di sepagi itu, Allah memberikan pembelajaran….. sebuah tanggul jebol dan meluluh-lantakkan ikon keindahan diseputaran Ciputat. Disana ada kemaksiatan, disana ada kampus yang nota bene mendidik insan cendekia berakhlak mulia, disana ada area tuk melepas kepenatan (sekedar lari dari rutinitas yang mencekik leher, batin dan mental), dan disana ada sebuah rumah untuk bertemu dengan PenciptaNya (Mesjid yang nyaris utuh, yang masih menunggu diisi oleh JamaahNya) dan area wisata.
Sekian waktu sesudahnya……
Tempat yang telah luluh lantak itu, masih jadi obyek wisata….. orang-orang narsis yang mencari popularitas diatas penderitaan saudara-saudaranya, dengan pose-pose aneka rupa.
Tempat yang menyisakan duka bagi keluarga yang ditinggalkan tuk selamanya, menyedot energi sekitar (yang sayangnya dikeluarkan setelah musibah terjadi) berupa mie instant, pakaian bekas layak pakai, buku dan seragam sekolah layak pakai serta segala sesuatu yang ber “label layak pakai”; Barang-barang yang kemudian menggunung sehingga harus “diuangkan” karena tak ada tempat lagi tuk menampung. Bila masalahnya adalah “kebutuhan” uang tunai, marilah kita berandai-andai bermatematika sederhana: seorang caleg DPRD tingkat II, akan menghabiskan dana sekitar 500 juta; satu tingkat diatasnya menghabiskan dana sekitar 1 milyar; Berapa trilyun yang bisa dikumpulkan dari mereka? Untuk kebutuhan saudara-saudara kita di Situ Gintung?
Ajang tragedi malah kemudian menjadi ajang “perang argumentatif” yang pasti tak akan ada ujungnya! Sementara korban tetap menderita! Siapa peduli? Pejabat cari selamat, calon pejabat cari hormat!
Bangsa kita memiliki banyak sekali tarian daerah, tetapi “menari” diatas penderitaan orang lain….. duh Gusti, serasa “urat malu” hamba nyaris putus, tak berani membuka tutup muka ini….tuk menatap penderitaan mereka.
Saudara-saudaraku di Situ Gintung, biarlah air mata menjadi kering ‘tuk mengeluarkan kotoran-kotoran mata yang menumpuk selama ini, melihat yang seharusnya tak dilihat. Biarlah kuping kalian tertutup….. ketimbang mendengar khotbah dan pituah-pituah untuk menarik simpati, biar dipilih jadi wakil kalian.
Tetapi bukalah tetap hati kalian, biarlah hati “mereka” tertutup.

Subuh yang lain
Ditempat yang jauh di hari berbeda, di subuh yang berbeda pula…. Allah memberikan pembelajaran lain, “galodo” melanda Sumatera Barat Kabupaten Tanah Datar dan sekitarnya. Akankah “kalian” tetap menutup mata dan telinga “hati” ? Masih belum cukup pembelajaran ini? Ditambah lagi Kutai Kertanegara, Kalimantan. Duh Gusti… Lapindo pun belum selesai!

Indonesia baru tidak membutuhkan khotbah berkepanjangan, tidak butuh segala macam orasi dan janji-janji (yang seringkali lain di bibir lain di hati !)…. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata! Marilah mulai dari diri kita sendiri, mulai dari lingkungan kerja kita, lingkungan keluarga kita…. Menebar rahmat, memberi manfaat! DK,31/03/09

Pembelajar Sukses Mulia Membangun Jembatan 4: HELP dan Perubahan

PEMBELAJAR SUKSES MULIA MEMBANGUN JEMBATAN
Jembatan 4 : HELP dan Perubahan

Jembatan keempat adalah HELP yaitu singkatan dari hard, empathy, love dan personal sebagai cara untuk merubah/memperbaiki diri sendiri atau orang lain. Untuk memperbaiki orang dan diri sendiri pertama-tama perlu keras, bandingkan dengan Wiyogo Atmodarminto pada saat akan menghapus becak dari DKI, dia keras meskipun ditentang oleh DPRD DKI. Ingatlah situasi dimana pada waktu anak kita sakit batuk-pilek, dan dia memaksa minta beli eskrim waktu kita bawa supermarket, apakah kita akan membelikannya? (biasanya atas nama cinta, perhatian dan sebagainya maka kita membelikannya); Berapa sering –dengan berkedok cinta, sayang, kasihan- kita membiarkan saat anak buah melakukan kesalahan dan tidak berani menegor, mengingatkannya? Bertindak keras bukanlah berarti menyiksa, melakukan kekerasan secara fisik !!! Tetapi lebih diartikan sebagai asertif, tegas dan berprinsip.
Tetapi setelah bisa keras, Wiyogo juga berempati, kalau saya jadi abang becak, setelah becaknya dirumponkan, saya mau ngapain? Maka dia mencoba menempatkan dirinya sebagai abang becak itu, akhirnya dia mempermudah proses mendapatkan SIM, mempermudah kredit kendaraan bermotor, mendirikan kursus perbengkelan dll.
Berempati berarti mencoba “meletakkan kaki” kita di sepatu orang lain yang mau kita perbaiki, sulit dan nggak enak pasti! Tetapi bila kita menginginkan perubahan, kita harus bisa! Mencoba memahami orang lain dari sudut pandangnya. (Bandingkan dengan sikap sebagian besar masyarakat kita yang senang menonton penderitaan orang lain, contoh: musibah Situ Gintung, Cireundeu, Ciputat)
Untuk merubah orang lain, perlu juga disertai dengan Love, kasih sayang yang mengandung kekuatan yang luar biasa, yang mampu menggerakkan seorang nenek tua renta untuk membagi kasih kepada orang-orang terlantar di kota Kalkuta, ia adalah pemenang hadiah Nobel, Ibu Teressa. Kekuatan kasih sayang itu pulalah yang menggerakkan seorang ibu yang pulang kerja meskipun lelah menemani anaknya belajar, demikian juga sang ayah. Bila kita bekerja disertai dengan “Love” maka apapun yang kita kerjakan, seberat apapun pekerjaan tersebut…. Akan terasa ringan dan menyenangkan.
Dan terakhir lakukanlah dengan personal, secara pribadi, seni menegur anak buah –janganlah lakukan didepan teman-temannya-. Jangan membandingkan antara anak yang satu dengan anak yang lain, karena hal itu akan melukai! Bila ingin memperbaiki seseorang, janganlah berteriak-teriak, tetapi lakukanlah secara personal.
Selanjutnya, darimana perubahan itu harus dimulai?
Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, karena menurut Plato “tidak ada seorang Imam, Kiai, Pastor, Pendeta, Ulama manapun dapat merubah seseorang apabila orang tersebut tidak mau berubah”.
“Bila ingin memperbaiki dunia, perbaikilah terlebih dahulu manusianya”. Bila anda ingin memperbaiki dunia kerja anda, dunia kehidupan di sekitar anda, mulailah terlebih dahulu dengan memperbaiki manusianya, dan manusia itu adalah diri anda sendiri!!
Untuk memperbaiki dan merubah diri sendiri tentunya perlu melakukan “mapping pribadi”, lakukan pemetaan diri, kenali kelemahan-kelemahan saya. melihat segi-segi kelemahan selama ini yang menganggu perjalanan hidup dan karir saya. Apabila ada orang yang sakit perut, kemudian datang ke dokter, tentunya dokter akan melakukan “diagnosa dan anamnese” serta bertanya “apa yang anda rasakan”. Tentunya si sakit akan mengatakan perut saya sakit dokter, dan bukannya kepala saya sakit. Karena bila salah diagnosa, tentunya obat yang diberikan pun akan salah pula. Oleh karena itu jadilah anda dokter bagi diri anda, temukan penyakit-penyakit anda, dan setelah itu barulah anda akan mendapatkan resep yang tepat untuk sakit tersebut.

Jumat, 20 Maret 2009

Ketika dia bukan untukmu?

Artikel ini dapet nyomot dari email tetangga, punten kepada penulis Bp.Mochamad Fadly, moga-moga bergunak bagi yang baca?
Ketika Dia Bukan UntukmuBagaimana perasaanmu jika seseorang yang direncanakan akan menjadi pendamping hidupmu ternyata pergi? Mungkin hatimu nelangsa.. Ada sejumput kecewa berkecambah. Andai dulu aku menerima dia apa adanya, pasti aku yang bersanding dengannya,begitu bisik hatimu.Coba kita renungkan. Mungkin kau pernah berkunjung ke toko pakaian..Kau m emilih pakaian yg pas untukmu. Mungkin pramuniaga menyarankan, "ini pakaian yg cocok untuk Anda." Kau membawa pakaian itu ke fiiting room, mencobanya. Betulkah pakaian itu cocok untukmu? Kau teliti bahannya, jahitannya, ukurannya. Setelah memeriksa dgn seksama, kau merasa kurang sreg dgn pakaian itu. Dengan kata maaf pada parmuniaga, kau kembalikan pakaian itu ke tempatnya. Kau beralih ke gerai pakaian lain. Hal yg sama mungkin terulang; pakaian yg menurut orang lain pas untukmu, atau pakaian yg sepintas cocok menurutmu, ternyata tidak tepat setelah diteliti.Sebuah pakaian, mungkin cocok untuk orang lain, tapi tak cocok untukmu. Kau tak bisa membeli pakaian warna gelap krn kulitmu sawo matang. Kau tak cocok mengenakan kemeja dgn motif vertikalberdempet, krn posturmu kurus tinggi; motif itu akan membuatmu terlihat semakin kurus. Kau harus berdamai dgn situasi dan kondisi.Tetapi yakinlah ada pakaian yg tepat disebuah gerai tertentu yg cocok untuk setiap orang...Ada juga seseorang yg tak yakin dgn sebuah pakaian, tapi ia tetap mencobanya. Ia bertanya-tanya, cocokkah pakaian ini untukku? Ia meneliti dgn seksama. Ia menemukan fakta bahwa tak ada hal ygmembuat ia harus menolak pakaian itu. Apalagi pakaian itu hadiah seorang yg dihormatinya, orang yg dikasihinya atau mumpung sedang ada great sale! Beli sekarang atau menyesal kemudian. Bertahun-tahun setelah mengenakan pakaian itu, baru terasa, pakaian itu memang cocok untuknya.Pakaianmu, pasangan untukmu. Bisa cocok untuk orang lain, tapi tidak dgnmu. Maka, tak perlu bersedih jika seseorang yg kau kira tepat untukmu bersanding dgn orang lain; orang yg dekat denganmu. Yakinlah pasangan yg tepat ada di suatu tempat dan kau akan berjumpa dgnnyadisuatu masa tertentu. Mungkin Yang Kuasa sengaja menyimpannya, agar saat bertemu kau benar-benar siap berdampingan dgnnya. Sesuatu yg baik menurutmu, belum tentu baik menurut-Nya. Terus berusaha dan berdoa. Perbaiki diri sampai akhirnya kau temukan pakaian yang cocok untukmu.Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya pasangan, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab..Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan,seraya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati,lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuhperhatian. Saya bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.Sejalan dengan berlalunya waktu,saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya, "HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan."Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia! menjawab, "Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar."Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dariMu?"Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskan kepadamu. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan sepertiengkau.. Tidaklah adil bagiKu untukmemberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar; atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam; atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam; seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang.Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid.. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu".Ini untuk : yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan menikah dan yang sedang mencari, khususnya yang sedang mencari..J I K A........Jika kamu memancing ikan..... Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil Ikan itu..... Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja.... Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang... .Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya.....Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja......Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingat... ..Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh......cukuplah sekadar keperluanmu. ......Apabila sekali ia retak......tentu sukar untuk kamu menambalnya semula...... .. Akhirnya ia dibuang..... .Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi......Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya.... .Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya Begitu istimewa.... .Anggaplah ia manusia biasa. Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya. .....akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya. Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terusHingga ke akhirnya.... .Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi.....yang pasti baik untuk dirimu. Mengenyangkan. Berkhasiat.Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain.... Terlalu ingin mengejar kelezatan.Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. kamu akan menyesal.Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan.....yang membawa kebaikan kepada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu. Mengapa kamu berlengah ?dengan coba bandingkannya dengan yang lain.. Terlalu mengejar kesempurnaan. ...
Mochamad Fadly, PT. TRIPATRA Engineers And Constructors ,Jl. R.A Kartini No. 34, Cilandak Barat
Jakarta Selatan

Selasa, 17 Maret 2009

Jembatan 3 Kebahagiaan dan Sikap Positif

PEMBELAJAR SUKSES MULIA MEMBANGUN JEMBATAN
Jembatan 3 : Kebahagiaan dan Sikap Positif

Bila Anda membuka pintu – bagian mana yang terpenting – dari pintu tersebut? Mungkin Anda akan menjawab “Daun pintu”, “Handel”, “Kunci”. Sebenarnya yang terpenting adalah “engsel”, dua buah benda kecil yang menyangga pintu tersebut agar tetap berfungsi sebagai pintu. Seringkali kita tidak mempedulikan hal-hal sepele, hal-hal kecil dan tidak terlihat (seperti engsel pada pintu tersebut) didalam kehidupan kita.
Saat saya bertanya kepada sekelompok orang : Apakah Anda ingin bahagia? apakah orang-orang disekeliling Anda saat ini, entah sopir angkot, satpam, manajer, direktur, siapapun mereka juga ingin bahagia?, apakah penghuni penjara ingin bahagia ?, apakah orang tua dan orang-orang lain yang anda cintai dan mencintai anda, mereka juga ingin bahagia ? Tentu jawaban yang akan Anda berikan kepada saya adalah “Tentu saja, semua orang ingin bahagia”
Pertanyaan berikutnya adalah mengapa semua orang ingin bahagia ? Mungkin jawaban yang muncul ber macam-macam : bahagia itu tujuan setiap orang, bebas, dapat kesenangan dll. Secara essensial-mendasar jawabannya adalah “because we are created to be happy” (semua orang diciptakan untuk berbahagia). Karena pada saat diciptakan sesungguhnya Sang Pencipta telah memberikan kebahagiaan itu!
Lalu, apakah semua orang sudah bahagia? Anda mungkin akan menjawab belum, kalau begitu mana yang lebih banyak, yang sudah bahagia atau yang belum bahagia? Sebagian besar diantara Anda mungkin menjawab yang belum bahagia lebih banyak. Mengapa bisa demikian? padahal kita semua diciptakan untuk berbahagia!!!
Jadi, apa yang membuat orang berbahagia ? (cobalah Anda membuat sebuah daftar)
Alkisah ada seorang bapak yang sukses dalam hidupnya, memiliki 4-TA(harTA, takhTA, kaTA, cinTA) yang tinggi, pada waktu anaknya diwisuda jadi dokter, sang Bapak mengatakan belum bahagia, dia akan bahagia bila anaknya sudah menikah dan punya anak. Pada saat anaknya lahir (cucunya), ternyata dia masih tetap mengatakan belum bahagia. (dia hanya bercita-cita untuk berbahagia) Beberapa waktu kemudian, sang kakek masuk ICU; Waktu teman-kerabat mem-bezoek, seluruh tubuhnya dipenuhi selang, di hidung, di tangan, di mulut, selang kateter untuk membuang air kemihnya. Pada saat saya masuk, dia berbisik agar jangan seperti dia! (saya menangkap maksudnya, jangan hanya bercita-cita untuk berbahagia…..tetapi jalanilah kebahagiaan itu). Untung waktu dimakamkan, anaknya tidak menuliskan dibatu nisannya : “Disini berbaring ayahanda kami, yang bercita-cita untuk berbahagia.”; Anaknya menuliskan :”Disini berbaring ayahanda kami yang berbahagia.”
Jadi, kapan Anda akan berbahagia ? Saya khawatir jawaban Anda akan sama seperti sang Bapak dalam kisah diatas. Sesungguhnya “kita semua tanpa terkecuali tidak punya hari esok”, karena apabila nanti malam Anda tidur, bisa jadi besok Anda tidak bangun lagi; Hari esok masih menjadi milik Sang Pencipta, belum menjadi milik kita!. Jadi untuk berbahagia adalah hari ini (mas Arvan Pradiansyah mengatakan “If you want to be happy, be happy now !) jangan tunda besok, karena hari esok belum menjadi milik kita.
Suatu hari, seorang sastrawan terkenal Mark Twain yang senantiasa mencari inspirasi di beranda depan rumahnya setiap pagi mendapatkan pengalaman yang sangat berharga! Saat itu lewat seorang tukang ikan menawarkan ikan kepadanya, akan tetapi dia tidak mau. Kemudian pukul 10.00 pagi saat tukang ikan ini akan pulang, kembali menawarkan ikan kepada Mark Twain, dia tetap tidak mau beli.
Sampai pada hari ketiga, pada saat tukang ikan itu akan pulang pukul 10.00, dia kembali menawarkan ikan kepada Mark Twain, dan akhirnya karena kegigihan tukang ikan itu, dia menyuruh isterinya untuk membeli dan menggorengnya untuk mereka makan nanti siang. Saat makan, Mark Twain hampir muntah, karena rasa ikan itu sudah tidak enak sama sekali! Dengan demikian acara makan siang itu jadi berantakan. Keesokan harinya, tukang ikan itu lewat lagi dan menawarkan ikan kepada Mark Twain; Nah, ini kesempatan untuk memarahi tukang ikan itu, pikir Mark Twain. Maka dia memanggil dan memarahinya: “Ikan yang kamu jual kemarin rasanya tidak enak sama sekali!” Tukang ikan itu kemudian menjawab : “Tuan, sehari –dua kali- saya menawarkan ikan itu kepada Tuan. Jadi jangan salahkan saya kalau pada hari ketiga Tuan baru membelinya dan rasanya sudah tidak enak sama sekali!”. Para pembaca yang budiman, sehari 24 jam, dikali 60 menit, dikali lagi 60 detik, bahkan 72 detak (karena setelah detik masih ada detak, detak jantung yang adalah nyawa kita) kebahagiaan itu ditawarkan kepada kita dan kita menolaknya!!, sadar atau tidak sadar. Sekarang coba Anda pegang pergelangan tangan Anda masing-masing, rasakan ada sesuatu yang berdetak, itulah detak jantung Anda, dan sekarang cobalah Anda suruh berhenti! Bisa ??? Bisa ???!!! Tidak bisa tentu!! Demikian pula sebaliknya, apabila dia mau berhenti, Anda minta jangan berhenti dulu, karena masih ada hal-hal yang masih harus Anda kerjakan, masih ada orang-orang yang harus Anda bahagiakan….itu juga tidak mungkin!!! Oleh karena itu, saat inilah satu-satunya waktu untuk berbahagia, jangan tunda!! (seperti dikatakan Dr.Sun Yat Sen : “janganlah menunda apa yang dapat anda kerjakan hari ini, karena hari esok ada masalahnya sendiri yang harus diselesaikan”)

Kebahagiaan itu ada dimana? Abraham Lincoln mengatakan “Setiap orang dapat berbahagia, sebanyak diputuskan oleh pikirannya.”. Menghadapi situasi yang sama, dua orang bisa jadi merasakan hal yang berbeda, yang satu berbahagia dan satunya lagi menderita. Hal ini tergantung, bagaimana pikirannya memutuskan. Alkisah pada tahun 1998 (saat krisis ekonomi melanda Indonesia) ada dua orang karyawan yang kena PHK dari sebuah bank, mereka masuk di bulan dan tahun yang sama, kena PHK juga di bulan dan tahun yang sama; Yang satu mati bunuh diri setelah terima uang pesangon, yang satunya lagi dalam kurun waktu 2 tahun berikutnya sukses sebagai petani/peternak cacing. Apa yang dialami oleh kedua orang tersebut sama persis, jadi bukan apa yang terjadi pada kita yang akan menentukan kualitas diri kita melainkan setiap respons yang kita berikan.
Kebahagiaan itu bersifat menular (ada snowballing effect, efek bola salju….bila anda menggelindingkan bola diatas salju makin lama ia akan makin membesar) demikian juga ketidak bahagiaan. Suatu hari seorang karyawan yang dimarahi boss di kantor, membawa pulang ketidakbahagiaan itu, lalu di rumah dibagikannya kepada isterinya, isterinya membagikannya kepada puteranya, puteranya membagikannya kepada kucing yang sedang melintas di dapur. Bila Anda nonton film di dalam bioskop, film apa yang Anda sukai?, yang berakhir dengan tangis dan air mata, atau yang berakhir dengan tawa dan kebahagiaan? Semuanya suka yang berakhir bahagia (happy ending), karena sifatnya yang menular itu. Jadi, marilah kita mulai menularkan kebahagiaan satu sama lain, dan hindari penularan ketidakbahagiaan. Goethe (seorang pujangga Jerman) mengatakan bahwa “kebahagiaan bukanlah sukacita yang sementara, melainkan suatu kekuatan rahasia yang berkesinambungan” (semakin ditularkan, ia akan semakin membesar…..membesar)
Kebahagiaan adalah ibarat taman, sedangkan kesenangan ibarat tumbuhan yang tumbuh di taman itu, bila tumbuhan nya menjadi terlalu lebat tentu harus dipangkas sehingga tampak kembali asri. Untuk berbahagia, kadangkala kita harus memangkas kesenangan-kesenangan kita (contoh : saya senang nonton film di bioskop, tetapi suatu saat saya harus menemani anak saya yang sedang ulangan umum daripada memaksakan diri nonton film di bioskop dan meninggalkan anak)
Kebahagiaan juga lebih menyangkut perasaan dan pikiran, bagaimana reaksi/respons kita terhadap suatu keadaan, itulah yang lebih mempengaruhi kebahagiaan/ketakbahagiaan kita; Jadi kebahagiaan itu adalah :
1. Situasi terpenuhinya kebutuhan mendasar manusia (sandang, pangan, papan), dan bukan “keinginan” (karena keinginan manusia tidak pernah terpuaskan)
2. Lebih menyangkut perasaan/pikiran, sehingga bagi setiap orang hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan itu berbeda.

Menurut Dr.Albert Schwetzer, untuk berbahagia perlu :
1. Mencintai dan Melayani
Pertama-tama adalah mencintai diri sendiri (misalkan saya mau memberi uang kepada seseorang, tetapi saya tidak punya uang maka saya tidak bisa memberikannya), baru kemudian saya bisa mencintai orang lain. Untuk mengenal seseorang, saya perlu waktu berapa lama? Satu bulan, dua bulan atau satu tahun, dua tahun? Ternyata untuk mengenal seseorang kita memerlukan waktu lama. Kemudian berapa lama, saya pergunakan waktu untuk mengenal diri sendiri? Ternyata cukup banyak orang bahkan boleh jadi Anda sendiri belum mengenal dirinya sendiri, jati dirinya. (Dalam pewayangan, Bima bahkan melintasi 7 samudera untuk menemukan jati dirinya yaitu Dewa Ruci). Dag Hammersjkold (mantan sekjen PBB yang wafat tahun 1961) mengatakan bahwa perjalanan umat manusia yang terjauh bukan dari bumi menuju planet, melainkan perjalanan menuju inti dirinya sendiri, menemui jati dirinya. Bahkan 4 abad sebelum masehi (tahun 399 SM), seorang filsuf yang bernama Socrates berkata bahwa hidup yang tidak pernah dipertanyakan, tidak layak untuk dijalani. Jadi, bila Anda telah hidup 40 tahun, 50 tahun dan belum pernah mempertanyakan kehidupan Anda itu, maka tahun-tahun yang sudah Anda lalui itu tidak layak untuk dijalani!!
Jadi, marilah kita mencoba untuk mengenali diri kita :
Q Siapa Saya ?
Saya adalah terdiri dari : fisik, mental, emosi dan rohani. Keempat faktor ini harus dikembangkan secara seimbang; Fisik bisa dikembangkan dengan menjamurnya klub-klub kebugaran jasmani; Mental bisa dikembangkan selain lewat sekolah/kursus formal, bisa juga lewat bacaan-bacaan; Emosi bisa dikembangkan lewat diri sendiri; Rohani dikembang-kan lewat sarana-sarana peribadatan.
Yang terpenting adalah hukum keseimbangan, karena kita melihat contoh-contoh orang yang hidupnya tidak seimbang akhirnya berakhir dengan tragis (seperti Elvis Presley, Mike Tyson, dll)





Q Darimana Saya berasal ?
Sebagian besar dari Anda, pembaca yang budiman, mungkin akan menjawab sesuai dengan daerah asalnya masing-masing. Tetapi saya mau mengatakan : saya tidak tahu tempatnya dimana, akan tetapi sekian puluh tahun yang lampau ditambah sembilan bulan sepuluh hari, kedua orangtua anda melakukan hubungan yang sangat mulia untuk mengembangkan jumlah umat manusia. Jadi anda berasal darimana ? (beberapa diantara anda mungkin menjawab dari rahim ibu). Bila demikian, simaklah sejenak kisah nyata ini: saya kenal orang tua yang sudah menikah 10 tahun, namun belum mempunyai anak, padahal baik sang pria maupun perempuannya sama-sama sehat (sel telur dan sel spermanya cukup sehat untuk dibuahi dan membuahi). Jadi anda berasal darimana ? Ya, dari Sang Pencipta. Kesadaran ini penting, karena “anak” sesungguhnya adalah titipan dari Sang Pencipta (dikatakan oleh Kahlil Gibran). Dengan menyadari bahwa kita adalah titipan dari Sang Pencipta, tentunya kita harus memelihara tubuh ini dengan sebaik-baiknya (bayangkan bila anda menerima hadiah dari orang yang mencintai anda, tentunya hadiah itu akan anda pelihara dengan baik; apalagi tubuh ini, yang merupakan hadiah dari Sang Pencipta). Kesadaran ini seharusnya membuat kita tidak merusak tubuh ini, titipan dari Sang Pencipta (karena banyak orang yang merusaknya dengan sabu-sabu, narkoba dan lain-lainnya)

Q Untuk apa saya hidup ?
Setelah dilahirkan kedunia, timbul pertanyaan berikutnya yaitu untuk apa saya hidup dan dilahirkan kedunia ?
Hidup adalah untuk beribadah, dalam ibadah dan doa-doa kita, yang kita doakan adalah orang-orang lain yang kita cintai dan mencintai kita, kita doakan agar mereka dipenuhi dengan kebahagiaan. Jadi, tujuan hidup kita adalah untuk berbahagia dan membuat orang lain berbahagia.

Q Kemana akhirnya saya akan pergi ?
Kembali kepada Sang Pencipta, dengan mempertanggungjawab-kan tugas-tugas kita selama hidup. Kita tidak kembali dengan “lenggang kangkung” dan lapor “saya kembali”, ataupun melaporkan bahwa kita sudah mempunyai lima rumah, empat mobil, 10 hektar sawah; Melainkan kita harus melaporkan berapa banyak orang yang sudah saya bahagiakan!!!!

Setelah mengenali siapa diri saya ini, maka saya bisa mencintainya dengan sebaik-baiknya; Setelah itu barulah saya bisa mencintai orang lain. Dan wujud cinta kepada orang lain itu adalah melalui “melayani” (service).

Pelayanan (service) ini adalah kata kunci untuk keberhasilan bisnis masa sekarang ini, hanya perusahaan yang dapat memberikan pelayanan terbaiklah yang akan tetap dicari pelanggan. Kita bisa belajar dari hukum alam yang bernama hujan. Alam tidak pernah mengukur berapa banyak air yang harus diuapkannya, alam juga tidak peduli bahwa kadangkala bahkan hujannya jatuh ditempat yang jauh dari tempat ia diuapkan. Semakin banyak air yang diuapkan maka semakin banyak pula hujannya.

2. Berpikir Positif

Cara pandang kita senantiasa melihat hal-hal kecil saja, cenderung mem-besar-besarkan masalah (pepatah mengatakan kuman diseberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak terlihat). Kita seringkali memakai teropong kehidupan kita secara terbalik, melihat dari lobang yang besar sehingga yang terlihat hanya yang kecil-kecil saja!!!

Cara berpikir kita dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lampau, harapan-harapan masa mendatang; Baik pengalaman masa lampau maupun harapan masa mendatang, bisa baik-bisa juga buruk, yang buruk biasanya mendatangkan pengalaman traumatis. Misalnya orang yang pernah digigit anjing, saat melihat anjing yang terbayang dalam pikirannya adalah rumah sakit (karena akibat digigit anjing dia pernah dirawat di rumah sakit). Beberapa orang yang melihat seorang gadis memakai bikini, pikirannya bisa bermacam-macam tergantung kepada harapan-harapannya.

Ada cerita tentang seorang salesman BH Triumph di New York, suatu hari salesman A diutus oleh sales managernya untuk memasarkan BH Triumph sebanyak-banyaknya di negara X di Afrika. Setelah sampai disana, ternyata dia menemukan bahwa semua perempuan disana tidak memakai BH, dia merasa putus asa dan tidak ada prospect, akhirnya dia minta ijin untuk kembali saja, dan boss nya mengijinkan. Keesokan harinya bossnya panggil salesman B, dia disuruh ke negeri X di Afrika itu untuk memasarkan BH Triumph (tentu saja sales manager itu tidak menceritakan pengalaman salesman A). Salesman B berangkat, sesampainya di negeri X itu, hatinya berbunga-bunga, dia melihat “pasar” yang sangat besar, karena semua perempuan disana belum memakai BH, oleh karena itu dia segera menghubungi boss nya dan minta segera dikirimkan 100 ribu lusin BH, karena dia akan membuat semua perempuan itu termasuk ratunya memakai BH!!!

Suatu sore hujan sangat lebat, seorang sales manager sebuah perusahaan farmasi mengumpulkan para medical representatifnya dan bertanya “Saudara-saudara, diluar hujan lebat, apa yang akan anda lakukan dalam situasi seperti ini?” Sekelompok pertama menjawab “Pak, diluar hujan lebat jadi kami akan pulang untuk beristirahat dan besok bekerja dengan lebih bersemangat”. Kelompok kedua menjawab “Pak, kami akan tinggal di kantor menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan pembuatan laporan yang belum selesai”. Kelompok ketiga mengatakan “Pak, dalam situasi begini, med-reps perusahaan pesaing kita akan berpikir seperti teman-teman kami tadi, ditambah lagi biasanya kalau hujan begini praktek dokter agak sepi; Jadi, kami akan segera berkunjung kepada dokter-dokter tersebut dan memperkenalkan produk-produk baru kita.” Menurut Anda, mana dari ketiga kelompok tadi yang paling baik? (peserta menjawab kelompok tiga) Yah, karena mereka tidak dibatasi oleh uraian pekerjaan semata, tetapi mereka memiliki willingness to do more (kemauan untuk melakukan sesuatu yang lebih, daripada hanya yang tertulis didalam uraian pekerjaan).

Bersikap positif berarti dapat membalik “piring kehidupan” seperti yang dialami Thomas Alfa Edison (penemu bola lampu pada percobaan ke 10.000 kali), pada usia 14 tahun dia sedang melakukan percobaan di atas sebuah gerbong kereta api yang menjadi langganannya, rupanya salah rumus kimia sehingga timbul kebakaran sehingga akhirnya dia dipukuli oleh awak kereta api dan dibuang keluar dari gerbong tersebut; Sejak saat itu dia menjadi setengah tuli. Orang mengatakan kasihan Edison, tetapi dia membalik piring kehidupannya, sesuatu yang dilihat orang sebagai malapetaka justru dianggapnya sebagai rahmat, ia mengatakan ketulian ini rahmat bagi saya, karena saya dapat melakukan penelitian-penelitian dengan lebih seksama tanpa gangguan suara-suara dari luar.

Setiap hari kita menghadapi peperangan kehidupan, untuk memilih antara bersikap positif atau menjadi reaktif serta bersikap negatif. Apakah Anda pernah mendengar nama Otto Von Bismarck ? (dia adalah seorang jenderal perang Prusia yang terkenal suka duel). Pada suatu hari dia tersinggung oleh ucapan seorang profesor yang bernama Virchow, oleh karena itu dia menantang Virchow untuk berduel. Pada hari yang ditentukan, dengan berkereta kuda mereka bertemu di arena pertarungan. Bismarck menawarkan kepada Virchow untuk terlebih dahulu memilih senjata yang akan digunakan dalam duel tersebut; Akan tetapi Virchow mengeluarkan dua buah sosis dari kantong jasnya dan berkata “Salah satu sosis ini adalah berisi kuman-kuman yang mematikan, sedangkan satunya lagi adalah sosis biasa, jadi silahkan anda pilih terlebih dahulu dan kita akan memakannya bersama-sama” Akhirnya dengan pandangan marah Bismarck meninggalkan arena, dia dikalahkan oleh sebuah sosis.
Pembaca yang budiman, dalam kehidupan kita juga terjadi seperti itu, kita dihadapkan setiap saat pada pilihan dua buah sosis tersebut, apa yang akan kita pilih tergantung kepada diri kita masing-masing.

Gerakan Pay It Forward

Inspirasi untuk Gerakan Sukses Mulia (Pay It Forward), saya kutipkan dari blog tetangga yang juga dikutip dari tulisan mas Jamil Azzaini, semoga semakin banyak yang terinspirasi.
Gerakan Pay It Forward
Pay It Forward adalah sebuah film drama Hollywood yang diproduksi pada tahun 2000. Film yang disutradarai oleh Mimi Leder itu mengisahkan tentang sebuah ide sederhana dari seorang anak kecil berusia 11 tahun, Trevor. Bocah kecil ini hidup bersama ibunya, Arlene, seorang pemabuk dan single parent.
Kisah film tersebut berawal pada saat seorang guru ilmu sosial di sekolah Trevor memberikan sebuah tugas. Sang guru, Mr. Simonet, meminta para murid memikirkan sebuah ide yang dapat mengubah dunia. Para murid juga diminta untuk mewujudkan idenya ke dalam tindakan nyata. Pada saat itulah Trevor mencetuskan ide Pay It Forward atau bayar dimuka. Inti dari ide Trevor adalah ia hanya perlu menolong tiga orang. Pertolongan itu harus dalam bentuk yang nyata dan tidak bisa dilakukan oleh orang yang akan ditolong itu. Setiap orang yang telah ditolong harus menolong tiga orang lain, begitu seterusnya. Trevor memutuskan bahwa tiga orang yang akan menjadi bahan eksperimen adalah seorang pemuda gembel pecandu narkoba bernama Jerry, Mr. Simonet yang masih hidup membujang, dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal bernama Adam
Trevor melihat bahwa Ibunya sangat kesepian, tidak punya teman untuk berbagi rasa, telah menjadi pecandu minuman keras. Trevor berusaha menghentikan kecanduan ibunya dengan cara rajin mengosongkan isi botol minuman keras yang ada dirumah mereka, Trevor juga mengatur rencana supaya ibunya bisa berkencan dengan guru sekolah Trevor, Mr Simonet yang memberinya tugas itu. Ide Trevor mulai berjalan. Jerry dibantu oleh Trevor dengan cara membelikan baju, sepatu dan perlengkapan lain untuk modal bekerja serta meyadarkannya agar tidak terlibat narkoba. Uang itu diambil dari tabungan Trevor. Ketika Jerry berucap tarima kasi kepada Trevor, maka Treveor hanya menjawab ˜Pay It Forward”. Jerry kemudian membantu memperbaiki mobil Ibunya Trevor yang rusak tanpa diminta. Sang ibu melihat perhatian si anak yang begitu besar menjadi terharu, saat sang Ibu mengucapkan terima kasih, Jerry menjawab "Pay It Forward” Ibu Trevor yang terkesan dengan yang dilakukan Jerry, terdorong untuk meneruskan kebaikan yang telah diterimanya itu dengan pergi ke rumah ibunya (nenek si Trevor), hubungan mereka telah rusak selama bertahun-tahun dan mereka tidak pernah bertegur sapa, kehadiran sang putri untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan diantara mereka membuat nenek Trevor begitu terharu, saat nenek Trevor mengucapkan terima kasih, dan dibalas dengan ucapan: "Pay It Forward”. Sang nenek yang begitu bahagia karena putrinya mau memaafkan dan menerima dirinya kembali, meneruskan kebaikan tersebut dengan menolong seorang pemuda yang sedang ketakutan karena dikejar polisi untuk bersembunyi di mobil si nenek, ketika pemuda itu sudah aman, si pemuda mengucapkan terima kasih, si nenek menjawab dengan kata-kata : "Pay It Forward". Si pemuda yang terkesan dengan kebaikan si nenek, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan nomor antriannya di rumah sakit kepada seorang gadis kecil yang sakit parah untuk lebih dulu mendapatkan perawatan, ayah si gadis kecil begitu berterima kasih kepada si pemuda ini, dan dijawab oleh pemuda itu dengan ucapan : "Pay It Forward"
Ayah si gadis kecil yang ternyata konglomerat terkesan dengan kebaikan si pemuda. Orang kaya itupun terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan mobilnya kepada seorang wartawan TV yang mobilnya mogok pada saat sedang meliput suatu acara. Saat si wartawan berterima kasih karena mendapat rezeki nomplok berupa mobil Jaguar, ayah si gadis menjawab: "Pay It Forward" Sang wartawan yang begitu terkesan terhadap kebaikan ayah si gadis bertekad untuk mencari tau dari mana asal muasalnya istilah "Pay It Forward" tersebut. Naluri Jurnalistiknya mendorong dia menelusuri mundur untuk mencari informasi mulai dari ayah si gadis, pemuda yang memberi antrian nomor rumah sakit, nenek yang memberikan melindungi pemuda, Ibunya Trevor yang memaafkan nenek Trevor, sampai kepada si Trevor yang mempunyai ide tersebut. Dengan bantuan sang wartawan, Trevorpun muncul di televisi. Namun umur Trevor sangat singkat, dia ditusuk pisau saat akan menolong teman sekolahnya, Adam, yang selalu diganggu oleh para berandalan. Selesai pemakaman Trevor, betapa terkejutnya sang ibu melihat ribuan orang tidak henti-hentinya datang dan berkumpul di halaman rumahnya sambil meletakkan bunga dan menyalakan lilin tanda ikut berduka cita terhadap kematian Trevor. Trevor sendiripun sampai akhir hayatnya tidak pernah menyadari dampak yang diberikan kepada banyak orang hanya dengan melakukan kebaikan kepada orang lain.
Menurut saya, walau Trevor meninggal dalam usia yang sangat muda. Itu jauh lebih baik dibandingkan dengan orang tua yang meninggal namun tidak meninggalkan inspirasi apa-apa. Trevor memang pergi terlalu cepat namun ia telah mampu menginspirasi banyak orang dan mampu membuat perubahan yang berarti.
Dengan kondisi Indonesia yang sedang carut marut, angka kemiskinan yang meningkat, pengangguran yang tak pernah berkurang, orang-orang yang bingung memasukan anaknya untuk sekolah karena biaya yang melangit bahkan di beberapa daerah ada yang terkena busung lapar, Gerakan Pay It Forward menurut saya salah satu alternatif yang bisa ditawarkan.
Lakukan gerakan “Pay It Forward” dimulai dari Anda sekarang juga. Hasilnya? Biarkan puluhan ribu orang, karangan bunga, dan generasi berikutnya mengenang Anda ketika nanti saatnya tiba. Dan yang paling penting, Tuhan-pun bangga dengan Anda.
Salam Sukses Mulia
Jamil Azzaini, Inspirator Sukses Mulia.
Penulis buku Kubik Leadership dan buku Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia

Senin, 16 Maret 2009

Jembatan 2 Komitmen 100%

PEMBELAJAR SUKSES MULIA MEMBANGUN JEMBATAN
Jembatan 2 : Komitmen 100%

Dalam profesi saya, seringkali pada waktu rekrutmen, “kandidat” menyatakan komitmen mereka untuk bersedia ditempatkan dimanapun…. Tetapi setelah dijalani, mulai muncul protes, ketidaksanggupan, penolakan, ketidakdisiplinan dan lain sebagainya. Muncul kesan bahwa komitmen (persetujuan) awal itu hanyalah sebagai “ikrar sesaat” agar diterima bekerja….. selanjutnya…..”kumaha engke, gimana nanti”
John F.Kennedy mengatakan “Jangan tanya apa yang diberikan oleh negara terhadapmu tetapi tanyakan apa yang dapat kau berikan pada negara”, kalau kita dengar kembali perkataan ini, kita sungguh harus malu, belum melakukan apapun…. Kita sudah bertanya (mengeluarkan manajemen USA) “untuk saya apa”, gaji saya berapa, apa yang akan saya dapatkan setelah melakukannya? Disiplin gak jalan, produktivitas jongkok, aktivitas jalan di tempat.
Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di masyarakat, organisasi sosial, organisasi keagamaan, komitmen dan persetujuan yang kita berikan hanya sebatas di mulut, tetapi setelah turun ke perut apalagi hati segala sesuatu berubah; Komitmen yang telah diberikan bisa berubah, karena tumpukan lembaran rupiah persetujuan bisa luntur dan hilang. Komitmen anak terhadap orang tua (untuk membantu pekerjaan di rumah, membersihkan kamar sendiri dll), komitmen orang tua terhadap anak (untuk saling mengasihi, memberi waktu yang seimbang untuk anak-anak dll), komitmen RT kepada warga untuk memberikan pelayanan tanpa pamrih, komitmen warga terhadap RT yang dipilihnya sendiri….. pada akhirnya komitmen dari pelaksana Negara tertinggi kepada warga masyarakatnya dan komtimen masyarakat terhadap kepala negaranya.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah “apakah bangsa kita ini tidak memiliki komitmen?”, silahkan Anda menjawabnya sendiri. Kalau saya akan menjawab, masalahnya bukan tidak ada komitmen melainkan komitmen tersebut tidak turun ke perut dan hati; Artinya bila saya telah memberikan komitmen ingin mengabdi bagi Negara ini, meskipun sebagai PNS gaji saya hanya cukup untuk memenuhi kehidupan minimal (yang penting kebutuhan perut terpenuhi) maka saya berkewajiban melaksanakan “amanah” pekerjaan saya sebaik-baiknya. Bila saya melakukannya dengan “hati” yang tulus ikhlas, maka seberat apapun tugas yang dibebankan akan saya jalani dengan hati yang gembira. Demikian juga seharusnya di level organisasi, kelompok masyarakat, rumah tangga (sebagai bagian terkecil dari Negara dan bangsa)
Jangan-jangan kita ini hanya bangsa yang bisanya hanya “komat-kamit” sehingga sebutir batu ditambah “komat-kamit” telah mampu mendatangkan ribuan orang (gejala apa ini? Apakah memang masyarakat kita ini sudah demikian bodoh dan tidak logis?); Setelah “ponari-isme” maka di tempat lain muncul “beringin-isme” yang mengeluarkan “air mata menangis” yang dipercaya bahwa air tersebut mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Sementara orang yang dengan niat baik ingin membagi hartanya, bersedekah, beramal secara massal malah dipersalahkan; Lalu orang-orang yang memunculkan “beringin-isme, ponari-isme” pertanggung-jawabannya dimana?
Inikah nasib bangsa ini? Yang senantiasa menjual dan membeli “mimpi” ? Kapan bangun dari mimpi panjang ini? Tahun 1945, bangsa ini memerdekakan diri melalui lautan air mata dan darah, setelah 64 tahun kemudian malah “memenjarakan dirinya” kepada “mimpi”, hidup bagaikan zombie tanpa ruh dan nyawa. Tahun 1945, Jepang hancur lebur karena pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, setelah 64 tahun kemudian muncul menjadi kekuatan ekonomi besar dunia! (nota bene mereka tidak memiliki sumber daya alam, bandingkan denga Negara kita yang kaya raya melimpah segala jenis sumber daya alam)
Masihkah kita cukupkan diri kita hanya dengan “komat-kamit”? atau mulai saat ini kita bangun komitmen bersama, untuk melakukan perubahan…. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil…. Menuju suatu perubahan besar dan mendasar. Komitmen 100% !!!!

Minggu, 15 Maret 2009

Pembelajar Sukses Mulia Membangun Jembatan I: Paradigma

PEMBELAJAR SUKSES MULIA MEMBANGUN JEMBATAN
Jembatan I : PARADIGMA

Cerita “John si satu nada” :
Suatu hari, John menerima hadiah sebuah biola, didalam kotak biola tersebut terdapat petunjuk memainkan biola dengan posisi jari memainkan nada “do”. Begitu senangnya John sehingga setiap hari, siang maupun malam tanpa kenal lelah, dia berlatih bermain biola dengan nada “do” tersebut. Tentu saja isterinya yang setiap saat mendengarkan “hanya nada do” tersebut merasa sangat terganggu, akan tetapi John tidak peduli, dia ingin berlatih menjadi pemain biola yang terkenal! Inilah obsesinya!
Selang beberapa waktu kemudian isterinya (seorang penikmat musik) mendapat undangan gratis yang berlaku untuk dua orang menonton sebuah pertunjukan konser musik dari Belanda; Ia mengajak suaminya, namun John tidak mau karena sibuk berlatih main biola. Akhirnya terpaksalah isterinya mengajak salah seorang temannya yang juga sangat menyenangi pertunjukan musik, dan mereka sangat menikmati pertunjukan yang sangat langka tersebut. Setelah pulang dari konser tersebut, isterinya bercerita dengan semangat bahwa saat itu yang menjadi pusat perhatiannya adalah pemain biola yang dalam konser itu menggerak-gerakkan jarinya dengan sangat lincah dan menghasilkan musik yang sangat indah (isterinya bercerita sambil mengharapkan respons positif dari John). John menjawab “tentu saja, orang itu masih mencari-cari posisi jarinya yang pas, sedangkan saya sudah menemukan posisi yang pas adalah disini !” (sambil menunjukkan posisi jarinya berlatih bermain dalam nada “do”)
Banyak orang dalam kehidupan sehari-hari kita menjadi seperti John, kukuh berpegang pada prinsip yang diyakini sebagai kebenaran, meskipun kenyataan mengatakan bahwa itu salah dan keliru. Orang-orang tersebut sulit sekali merubah pendapatnya, seolah-olah kebenaran hanya ada pada dirinya. Ini kita temui bukan hanya pada tataran individu; Tetapi juga kelompok, organisasi dan bahkan pemerintah dan bangsa!
Inilah yang dimaksud dengan PARADIGMA (peta mental, pandangan hidup, gambaran atau potret mental, sudut pandang)
Paradigma yang keliru seringkali membuat apa yang kita dengar, apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan juga menjadi keliru, tidak sesuai dengan kenyataan. Apa yang ada didalam pikiran Anda saat mendengar “Ancol” di tahun 80-an (mungkin jawabannya adalah: tempat mesum, mobil goyang dll); Alkisah ada seorang teman melihat “saya” masuk Ancol dengan seorang perempuan di samping saya (kenyataannya adalah bahwa saya dan dia akan mengikuti seminar di Horison, Ancol), cerita yang kemudian berkembang adalah bahwa ada orang yang melihat “mobil saya” goyang-goyang pada malam itu di pinggir sirkuit Ancol !
Apa yang ada didalam pikiran Anda saat melihat seorang Presiden Republik Indonesia sedang duduk nongkrong dipinggir jalan Sabang Jakarta disuatu malam sambil makan jagung bakar?
Paradigma kita akan mempengaruhi cara berpikir kita yang pada akhirnya mempengaruhi pula cara kita bertindak (sikap dan tindakan kita)
Lakukanlah “shifting paradigm” ke arah positif sehingga tindakan kita akan menjadi positif!

Selasa, 10 Maret 2009

Insan Luar Biasa Seri VII

Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri,
Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri,
Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata: "Ini telah kulakukan"
Segalanya ini memberi makna seorang insan (Bait terakhir)
Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri..........
Seringkali orang bertindak dulu baru kemudian kalau sudah "kepentok" baru berpikir; Cobalah kita mengingat kembali saat pertama kali kita membeli pesawat televisi, apa yang kita lakukan? Biasanya begitu pulang ke rumah, pesawat televisi langsung di "connect" ke sumber listrik dan dinyalakan; Saat, misalnya tidak keluar gambarnya barulah kita mencari buku manual (petunjuk pemakaian) untuk mencari penyebab dan jalan keluarnya. Atau saat kita menerima suatu penugasan baru, banyak orang yang langsung bertindak.... tanpa membuat perencanaan terlebih dahulu (didalam Seven Habits dari Steven Covey dikatakan bahwa kita perlu pertama-tama mulai dari "cetak biru", pikiran dulu, rencana dulu..... baru aksi). Pikir dulu baru bertindak, pikiran mendahului tindakan. Kata "untuk diri sendiri" seolah-olah terkesan egosentris, tetapi sesungguhnya kata ini mau mengajarkan kepada kita bahwa baik pikiran maupun tindakan kita sesungguhnya adalah tanggung jawab pribadi kita. Seringkali orang, bila berhasil dianggapnya hasil kerjanya sendiri, sebaliknya bila gagal dianggapnya hasil kerja orang lain alias orang lainlah yang bertanggung jawab.
Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri.....
Apabila kita telah melakukan segala sesuatunya secara benar, maka pantaslah kita meraih keuntungan hasil kerja sendiri. Seringkali kita mendapatkan atasan yang mengklaim suatu hasil karya besar sebagai hasil kerjanya (padahal yang melakukan bawahannya), sebaliknya menyalahkan bawahan atau menuding bawahan sebagai penyebab suatu kegagalan.
Untuk menghadapi dunia dengan berani.......
Dunia kita ini sudah penuh dengan kegelapan, frustrasi, iri hati, dendam, sakit hati yang terkadang sangat melukakan. Untuk menghadapinya diperlukan keberanian, hati yang terbuka seluas samudera, sikap mental positif, optimisme yang besar.
Dan berkata:"Ini telah kulakukan"; segalanya ini memberikan makna seorang insan!......
Adakah diantara kita yang kenal kakek buyut kita? (siapa namanya, apa kedudukannya, lahirnya dimana, kerjanya apa dan lain sebagainya); Pastilah kebanyakan diantara kita akan menjawab "tidak kenal", sebagian kecil mungkin menjawab "tahu" tapi tidak "kenal" karena mungkin hanya tahu namanya saja.
Tetapi bila saya bertanya:"Ada seorang yang hidup kira-kira semasa dengan kakek buyut anda, yang menggunakan kuda putih sebagai kendaraannya, berpakaian serba putih bahkan sorban putih" apakah anda mengenalnya? Saya yakin, hampir 100% dari anda akan menjawab "Pangeran Diponegoro, dari Jawa Tengah". Anda tidak hanya tahu namanya, tetapi juga tahu asalnya, kedudukannya, pangkatnya, gelarnya, keluarganya. Siapakah Pangeran Diponegoro bagi anda? Kakek buyut bukan, saudara bukan..... tetapi anda mengenalnya?
Karena Pangeran Diponegoro tercatat namanya dalam sejarah, lalu mengapa kita tidak membuat nama kita tercatat dalam serjarah, minimal dalam silsilah dan sejarah keluarga besar kita nanti. Bila kita tidak mampu jadi pohon beringin, jadilah pohon mangga, bila tidak mampu jadi pohon mangga jadilah pohon cabe, bila tidak mampu jadi pohon cabe minimal jadilah rumput yang hijau..... yang mampu membuat hati yang keras jadi melembut selembut hamparan rerumputan yang menghijau.... yang siapa tahu dapat menghijaukan taman hati kita. Biarlah sejarah hidup kita akan dicatat oleh anak cucu keturunan kita nantinya dan bila ini dapat terjadi maka hidup kita akan bermakna! Inilah makna seorang Insan! Sukses meraih 4-TA (harTA, takhTA, kaTA, cinTA) setinggi-tingginya serta menebarkannya sebagai ladang amal bagi sesama, menjadi mulia!

Senin, 09 Maret 2009

Insan Luar Biasa Seri VI

Aku tidak akan merendahkan diri pada sembarang atasan dan ancaman
Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani (bait ke 7)
Rendah diri adalah salah satu penyakit mental yang menghinggapi orang-orang yang tidak PD atau kurang PD; Sumbernya bisa jadi merasa pendidikan kurang, penampilan fisik kurang, harta kekayaan kurang (dan segala macam kekurangan lain, yang orang lain belum tentu melihat itu sebagai kekurangan). Menurut mas Jamil Azzaini, justru kekurangan-kekurangan itu adalah uniknya kita (karena seringkali menurut kita kekurangan justru disanalah sumber kekuatan bagi kita, karena ciri itu hanya kita yang memilikinya) jadi mengapa harus rendah diri?
Tidak cukup hanya rendah diri, insan-insan model ini bahkan"merendahkan diri", menempatkan dirinya dibawah sembarang atasan dan ancaman. Lalu, siapakah sembarang atasan dan ancaman tersebut? Ia bukanlah atasan kita di tempat kerja, ia juga bukanlah orang yang lebih berkuasa di rumah kita melainkan ia adalah "pikiran-pikiran" kita sendiri. Bayangkan anda berniat untuk mulai rajin beribadah (sesuai dengan agama dan keyakinan anda masing-masing) akan tetapi pada saat yang sama "sembarang atasan" yang ada dalam pikiran anda akan menghalangi anda dengan macam-macam alasan (seperti nanti saja, sekarang kan sedang ada sinetron kesayangan kamu; atau nanti saja, sekarang kan sedang hujan dll). Bahkan sering juga disertai "ancaman" awas kalau kamu tetap lakukan nanti kehujanan, kamu akan sakit!
Selanjutnya disebutkan "sudah menjadi warisanku", mengapa disebut warisan? Karena kehidupan kita ini adalah "hadiah" atau "titipan" yang diberikan kepada kedua orang tua kita oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan orang tua kita yang "ketitipan" itu telah di"warisi" (karena tidak usah bayar, tidak usah memberi ganti rugi..... pokoknya tinggal terima jadi) darah yang mengalir didalam tubuh kita, diwarisi panca indera dan segala jenis "keajaiban" lainnya. Didalam darah kita mengalir zat besi yang bila diekstraksi akan menjadi sebuah paku sepanjang sekitar 5 cm yang memampukan kita untuk tegak berdiri dan tidak lunglai, bayangkan bila zat besi itu diambil apa yang akan terjadi dengan tubuh kita? Darah yang sama mengalir sepanjang hari sepanjang kehidupan kita. Didalam tubuh kita terdapat organ berupa pompa otomatis yang mampu memompa darah kita secara akumulatif 5 ton per hari yaitu jantung kita, terdapat juga mesin penyaring udara yang bila dikupas lapisannya satu per satu maka dapat menutupi seluas lapangan tennis yaitu paru-paru kita. Didalamnya juga terdapat kamera otomatis yang dapat memotret tanpa cahaya dan tanpa film didalam cuaca seperti apapun yaitu mata kita; Juga terdapat komputer super canggih yang sampai kapanpun manusia tidak mampu menciptanya yaitu otak kita yang mampu menyimpan memori dengan kapasitas 18 kuantriliun megabyte. Semua keajaiban ini diberikan secara gratis dan diwariskan kepada kita. Itulah yang membuat kita mampu berdiri tegak, megah dan berani. Lalu, bila Tuhan Yang Maha Kuasa telah me"waris"kan segala itu kepada kita, apa lagi yang dapat membuat kita takut?, rendah diri?

Sabtu, 07 Maret 2009

Insan Luar Biasa Seri V

Kenikmatan mencapai sesuatu bukanlah utopia yang basi

Aku tidak akan menjual kebebasanku tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma

(bait V)

Apabila kita telah berhasil mencapai sesuatu tentunya wajar bahkan wajib "menikmatinya" Banyak orang yang selama hidup bekerja keras, memeras keringat membanting tulang (terkadang bahkan membanting tulang orang lain), akan tetapi kehidupannya menjadi tidak seimbang sehingga setelah berhasil meraih 4-TA (harta, takhta, kata, cinta) yang tinggi, tidak mampu menikmatinya (sering sakit-sakitan sehingga menikmati makan enak pun sudah terlalu banyak pantangan, kedudukan/karier sangat tinggi tetapi malah tidak bisa dekat dengan mereka yang berada dibawah, keluarganya makin jauh -dekat secara fisik tetapi jauh secara emosi-).

Keseimbangan antara faktor-faktor fisik, mental, emosi dan rohani sangat penting dijaga agar kita dapat menikmati hasil 4-TA yang sudah diraih.

Faktor fisik dijaga keseimbangannya, menjaga kesehatan dengan asupan makanan yang seimbang, olah fisik yang seimbang (bahkan naik turun tangga pun kita sudah malas, karena ada eskalator atau lift)

Faktor mental dirawat dengan senantiasa mengasah "otak" kita, memberinya asupan makanan dengan banyak membaca, banyak belajar (guru kehidupan bertebaran disekitar kita)

Faktor emosi juga dirawat dengan mengenali diri kita, mengenali saat emosi-emosi negatif mendatangi kita dan mengembangkan emosi positif.

Faktor rohani (spiritual) juga dikembangkan, yang muslim lebih berikhtiar untuk menetapi sholat lima waktu, sholat-sholat sunnah, ikut pengajian; yang kristiani belajar untuk tidak menjadi kristiani napas alias natal dan paskah saja; yang buddha lebih rajin ke wihara. Asupan rohani perlu dicari dari buku, dari para spiritualis.

Apabila kita telah mencapai keseimbangan hidup, maka kenikmatan mencapai sesuatu dapat kita lakoni.

Utopia adalah "suatu khayalan yang hidup didalam angan-angan seorang pengarang", suatu tempat di alam imajinasi dimana disana tidak ada rintangan, tidak ada hambatan, segala sesuatunya serba tersedia dan tinggal dinikmati. Sayangnya didunia ini, tempat seperti itu hanya ada satu yaitu "kuburan" (apabila kita telah berada didalamnya, tidak lagi ada rintangan disana)

Bila kita ingin menikmati hasil jerih payah kita, nikmatilah.... jangan hanya menjadi utopia, mimpi yang tidak diwujudkan. Jangan sampai segala sesuatunya menjadi basi (makanan yang basi tidak enak lagi untuk dimakan, bahkan bisa jadi penyakit)

Aku tidak akan menjual kebebasanku......

Banyak orang termasuk saya terkadang tidak sampai menjual, tetapi paling tidak "menggadaikan" kebebasannya untuk sesuatu yang nilainya hanya sebatas "pandangan mata", terkadang bahkan ada yang memang menjual kebebasannya kepada "makhluk-makhluk" yang tidak kasat mata dan menjadi musyrik; Demi mengejar 4-TA yang tinggi, rela menjual dirinya kepada dukun dan "orang pintar" dan tersesat di jurang kenistaan.

Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma......

Insan Luar Biasa dengan segala kemuliaannya hendaknya memberi manfaat bagi orang lain, kehadirannya hendaknya berguna bagi orang lain, bukannya menukar kemuliaan tersebut dengan derma dan menadahkan tangan.

Mari, kita tegakkan kepala dan melangkah dengan penuh kemuliaan.

Kamis, 05 Maret 2009

Bridge to Success





Untuk menjadi Insan Luar Biasa perlu proses, diperlukan suatu jembatan "Bridge to Success" yang dapat menghubungkan kita antara potensi-potensi luar biasa yang kita miliki dengan tujuan mulia "bintang terang" kita masing-masing.

Puluhan tahun yang lampau, kita telah dilahirkan sebagai Insan Luar Biasa yang telah "memenangkan" pertarungan antara hidup dan mati, saat dimana ukuran tubuh kita tidak lebih dari 1 mikron (1/1000 mm), saat dimana sebagai wujud sel sperma kita berjuang bersama dengan 300 juta sel sperma lainnya (kurang lebih) untuk cepet-cepetan mencapai sel telur didalam rahim ibu kita.

Kita perlu jembatan antara "kemenangan masa lampau" waktu kita dilahirkan dengan kekinian kita saat ini, jembatan yang kembali akan memfasilitasi kita ke arah kesuksesan dan hidup mulia.



lanjutan Insan Luar Biasa Seri IV

Karena pilihan bebas tersebut maka insan luar biasa itu memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin.
Tantangan hidup adalah kawah candra dimuka, tempat mengasah dan menempa diri menjadi kuat. Tantangan hidup kadang berwujud menjadi rintangan-rintangan yang harus kita hadapi dan kalahkan. Tantangan hidup dapat berupa situasi dan keadaan sulit, orang-orang yang sulit, atau sikap mental yang ada didalam diri kita sendiri (dan yang terakhir ini yang paling sulit untuk dikalahkan, karena berarti kita harus mengalahkan diri kita sendiri; Dan untuk itu, kita harus berpulang kepada diri kita, mengetahui siapa diri kita dan kemana arah hidup kita akan ditujukan)
Hidup tidak selalu menjadi "jalan tol" bebas hambatan, bahkan "jalan tol" pun seringkali macet dan terhambat. Hidup tidak selalu menyajikan "sinetron kebahagiaan" bahkan seringkali diakhiri dengan ending kemalangan. Hidup tidak selalu menjadi mudah, bahkan seringkali kita didesak oleh ombak dan badai kehidupan.
Seekor "calon kupu-kupu" yang masih berupa ulat yang hidup dalam cangkang kepompongnya, akan menghadapi rintangan yang luar biasa besarnya, seorang janin yang masih berada didalam rahim ibunya selama 9 bulan 10 hari bergulat didalam perjuangan yang luar biasa beratnya. Tetapi rintangan dan perjuangan didalam kepompong dan rahim ibunda itulah yang membuat sang ulat bermetamorfosa menjadi kupu-kupu bila waktunya telah tiba; sang janin berubah bentuk menjadi seorang bayi mungil yang lucu dan menggemaskan. Dan apabila proses perjuangan tersebut kita ganggu, bahkan dengan niat baik untuk membantu maka yang akan lahir adalah bayi prematur, ulat yang belum siap menjalani kebebasannya sehingga dia akan melata dan kemudian mati.
Segalam macam rintangan dalam kehidupan inilah yang akan membuat kita kuat, bandingkan dengan orang yang "lahir di ranjang emas" dan tidak pernah berhadapan dengan yang namanya kesulitan "finansial maupun non finansial" ! Lihatlah, anak manusia yang setiap hari harus menyusuri jalan-jalan di perkampungan maupun perumahan-perumahan mulai dari kelas BTN sampai kelas superblok mewah sekedar untuk memunguti remah-remah kemewahan yang dibuang oleh penghuninya dipinggir-pinggir jalan kehidupan ini.
Lihatlah kesulitan dan tantangan kehidupan yang harus dihadapi (cemoohan teman sekolah dan teman-teman sepermainan -para guru saya yang bermukim di Kubik, saya mengutip contoh yang selalu ditampilkan beliau-beliau dalam training-) para pebisnis sukses saat ini puluhan tahun yang lalu saat beliau masih menjalani sekolah awalnya, ada yang harus jualan permen, gelang, hiasan dinding untuk membiayai sekolah mereka (Ibu Martha Tilaar, Ibu Retno Iswari, Ibu Gayatri Rawit); Lihatlah ribuan orang lainnya yang dapat menjadi acuan kehidupan kita, didalam kekuatannya menghadapi rintangan kehidupan.
Sementara disisi yang lain, kita melihat begitu banyak orang yang memilih "kehidupan yang terjamin", kehidupan yang aman dan nyaman, memilih untuk tetap berada didalam "zona kenyamanan".
Pilihan ada di tangan kita, memilih tantangan hidup atau kehidupan yang terjamin?

Insan Luar Biasa Seri IV

Aku menolak menukar insentif dengan derma
Aku memilih tantangan hidup daripada derma
Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin (Bait 4)
Didalam kehidupan ini, kita memiliki pilihan-pilihan; dan dari sekian banyak pilihan maka kita bisa memilih menolak atau menerima sesuatu. Pada saat-saat menjelang hari raya keagamaan tertentu atau jelang tahun baru, ada kebiasaan supplier yang memberikan bingkisan/parsel; Tanpa dikeluarkan ketentuan oleh pemerintah, seharusnya para pejabat tersebut memiliki kebebasan berkehendak, untuk menolak atau menerima. Demikian juga pada musim "kampanye" sekarang ini, para caleg memiliki kebebasan untuk memilih -menolak atau menerima- segala macam bentuk sumbangan dan penyertaan dalam bentuk apapun. Didalam bidang apapun, bentuk kehidupan apapun, status apapun, setiap orang setiap hari dihadapkan pada pilihan -memilih atau menolak- manis ataupun pahit.
Insentif adalah suatu bentuk penghargaan "finansial maupun non finansial" yang kita terima sebagai "bayaran" atas usaha dan jerih payah yang telah kita lakukan, atas segala kontribusi yang telah kita keluarkan (dalam konsep komunitas TDA, kelompok ini adalah kelompok yang memilih posisi tangan di atas, yang senantiasa memberi apapun yang dapat diberikan kepada sebanyak mungkin orang)
Derma adalah "sumbangan", sedekah, pemberian yang diberikan kepada kita tanpa kita berbuat apapun, tanpa memberikan kontribusi apapun (dalam konsep komunitas TDA, kelompok ini adalah yang memilih posisi tangan di bawah, sebagai penerima yang hanya mau menadahkan tangan tanpa berusaha)
Dalam kehidupan nyata kita, cukup banyak orang yang masih "menadahkan tangan" mengharapkan belas kasihan orang lain, atau bahkan menguras emosi orang lain untuk jatuh kasihan kepadanya. Dalam bentuk yang lebih halus, insan tipe ini adalah orang yang mengharapkan perhatian, pengertian dari orang lain tanpa berusaha memberi. Bila orang lain tidak memberikan yang mereka harapkan maka insan tipe ini akan membenci atau halusnya dia akan mengabaikan orang tersebut. Insan-insan tipe ini seringkali menjelma menjadi egosentris, orang yang berpusat pada dirinya sendiri dan sulit berbagi dengan orang lain.
Insan Luar Biasa adalah orang yang memilih menolak "menadahkan tangan" dan diberi derma, dia akan berusaha keras, cerdas dan ikhlas untuk kemudian mendapatkan insentif atas segala yang telah dia kontribusikan. Dan karena keikhlasannya pula, setelah dia mendapatkan insentif maka insan luar biasa ini akan berbagi dengan sebanyak mungkin orang, menjadi insan mulia. Salam sukses mulia

Rabu, 04 Maret 2009

Toxic Leader atau Vampir Emosi

Toxic Leader
Pagi ini, saat suasana pagi cerah cenderung gerah karena panas mentari sangat terik, saya nikmati perjalanan dari rumah ke kantor (BSD ke Daan Mogot, Tangerang) dengan mendengarkan Smart FM. Pembicara pagi ini adalah pakar Kecerdasan Emosional, Anthony Dio Martin, salah satu pembicara favorit saya. Beliau bicara tentang Toxic Leader.
Beberapa hal yang sempat saya tangkap adalah mengenai ciri-ciri Toxic Leader yang dapat kita kenali :
Manajemennya bergaya “Totem Pole” (saya mendengarnya seperti itu), pengertian saya istilah totem itu biasanya dilekatkan pada atribut-atribut pemimpin suku Indian. Menurut salah seorang teman, sahabat, guru saya, mas Jamil Azzaini, manajemen seperti itu disebut menggunakan filosofi katak melompat. Toxic Leader ini biasanya senantiasa menyalahkan sekelilingnya, rekan kerjanya, anak buahnya atas sesuatu yang berjalan dengan tidak semestinya. Ada teman yang sangat dekat dengan saya mengistilahkan tipe pemimpin seperti ini sebagai “Pontius Pilatus” yaitu orang yang mencuci tangannya ketika Nabi Isa akan disalibkan. Pemimpin ini adalah pemimpin yang tidak mau mengambil tanggung jawab, gaya manajemen “lempar batu sembunyi tangan”
Toxic Leader menimbulkan suasana kerja yang tidak menyenangkan, membuat resah, jenuh dan apatis bagi kelompok kerjanya bahkan juga kelompok kerja lainnya ikut tertular. Mereka menjadi “drakula emosi/vampire emosi” yang menghisap emosi dari sekelilingnya, sehingga membuat orang lain menjadi capek, lelah berhubungan dengan dia; Akibatnya juga, orang lain seringkali menghindari berhubungan dengannya.
Toxic Leader menuntut “blind loyalty”, mempergunakan “management by pokoke” (istilah saya sendiri), pokoknya apa yang saya mau harus diikuti, keinginan saya tidak boleh ditolak. Loyalitas yang diharapkan dari anak buahnya adalah loyalitas buta.
Toxic Leader menciptakan rasa bersalah dari orang lain (istilahnya emotional blackmail), sehingga anak buah tidak pernah berani mengambil keputusan karena takut salah; Bila kesalahan telah terjadi, pemimpin beracun ini akan terus menerus mengingat-ingat dan sulit membangkitkan kembali semangat anak buahnya.
Toxic Leader dapat meningkatkan produktivitas, sayangnya hanya jangka pendek, untuk jangka panjang dia menyebabkan Turn Over menjadi tinggi. Dia tidak dapat membangun semangat kerja team, cenderung membuat orang gerah dan saling curiga; Seperti kupu-kupu dia akan terbang kesana-kemari untuk menyebarkan cerita (seringnya cerita jelek) terkadang malah menimbulkan fitnah.
Toxic Leader seringkali menggunakan kalimat-kalimat ganda (bias), fogging word (berkabut). Bila dia melakukan kesalahan, dia akan membela diri dengan mengatakan “maksud saya bukan begitu” dan kalimat semacam itu. Ibarat melihat didalam kabut, orang akan sulit melihat dengan jelas.
Toxic Leader akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Bila strategi (6 cara diatas) tidak berhasil, maka dia akan mempergunakan cara-cara yang tidak halal alias haram secara hukum, yang penting tujuannya dapat tercapai, “berapapun harganya” emang gue pikirin, begitu prinsipnya.

Bagaimana cara menghadapinya?
“Never fight frontally”, jangan dilawan secara langsung, karena biasanya toxic leader ini seringkali cukup dekat dengan atasan dari atasan langsung bahkan owner (dalam filosofi katak melompat, dia senang “menjilat” atasan); Karena dia orangnya sangat ambisius, maka sedapat mungkin “penuhi ambisinya”, tetapi perlahan-lahan cobalah menyebarkan emosi positif kepadanya (sekali lagi ingat jangan frontal, pakailah kalau perlu jalan memutar…. Yang penting tujuan akhir dapat dicapai, untuk memperbaikinya)
Kita harus mengarahkan energi kita fokuskan pada pekerjaan-pekerjaan, jangan pada orangnya, karena bagi Toxic Leader dia akan menganggap anda sebagai musuh ketimbang kawan, bila anda “menyerang” orangnya.
Saya ingat petuah orang tua saya, pergunakanlah “filosofi main layang-layang”, tarik ulur agar tali layangan nggak putus.

Selasa, 03 Maret 2009

Insan Luar Biasa Seri III

Aku siap menghadapi resiko terencana, berangan-angan dan membina untuk gagal dan sukses (bait ketiga)
Senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi yang bagaimanapun sulitnya, gelapnya.... karena percayalah setelah gelap terbitlah terang, diujung dari gelapnya terowongan akan ditemui terang kembali, setelah gelap gulita malam yang pekat akan muncul matahari terang benderang.
Pada waktu anak saya memutuskan untuk menikah, saya bertanya: "apakah kalian sudah siap", "sudah" jawab mereka. Pengertian "siap" kami mungkin berbeda, kesiapan disini berarti mulai dari persiapan "tetek bengek" acara ritual perkawinan, persiapan tempat tinggal mereka setelah menikah, kesiapan menerima latar belakang keluarga-pendidikan-adat istiadat yang berbeda, kesiapan untuk menerima pasangan hidupnya apa adanya, kesiapan untuk menerima kehadiran buah hati apabila Allah sudah berkehendak, kesiapan untuk membesarkan anak, dan ratusan kesiapan lainnya.
Demikian juga dengan kehidupan kita ini, siap menghadapi bentuknya mulai dari yang terjelek sampai dengan yang terbaik. Kebanyakan orang hanya siap menghadapi yang terbaik dan tidak siap untuk menerima yang terjelek. Apabila flashback ke tahun 1998 saat "bencana" krisis terjadi, banyak orang yang tidak siap..... banyak orang terganggu secara mental karena "simpanan" di bank menguap tak tentu arah, bisnis hancur, keluarga berantakan karena banyak yang menjadi korban kekerasan dan sebagainya.
Kecuali terjadi "force major" sebenarnya segala sesuatu dapat diantisipasi dan dipersiapkan. Siap menghadapi resiko terencana: mengapa terencana?
Karena apabila kita telah merencanakan segala sesuatunya, berarti kita juga telah siap menerima hasilnya -apapun bentuknya- dan hasil akhir dari suatu aksi hanya ada dua gagal atau berhasil.
Berangan-angan dan membina
Rencana yang telah kita susun hendaknya tidak hanya menjadi sekadar angan-angan yang mengawang-awang dan tidak membumi.... karena apabila itu terjadi berarti kita menjadi sekedar bermimpi. Oleh karena itu angan-angan hendaknya disusul dengan aksi, membina berarti melakukan tindak lanjut. Banyak orang pintar membuat rencana, terampil membuat proposal akan tetapi tidak pernah sampai pada tujuannya karena tidak pernah bergerak, hanya diam ditempat.
Untuk gagal dan sukses
Kenapa gagal dulu? Karena menurut orang bijaksana, kita belajar dari kegagalan; Akan tetapi tentunya, tidak harus selalu gagal dulu baru sukses. Kalimat ini mau mengingatkan kita bahwa bila gagal jangan pernah berhenti, kita siap menghadapi kegagalan tersebut, dan kembali bangkit karena sadar bahwa diujung "jalan" tersebut telah menanti kesuksesan. Berkaca dari Thomas Alva Edison yang ribuan kali mengalami "kegagalan" namun tetap ulet melakukan percobaan dan penelitian sehingga akhirnya setelah lebih dari 10.000 kali behasil membuat bola lampu menyala dengan sempurna. Dia tidak berhenti belajar meskipun dikeluarkan dari sekolah pada saat kelas 4 SD.
Seorang anak bayi, belajar membalikkan badan, belajar mengangkat badan, belajar berdiri, belajar berjalan..... dan dalam proses tersebut ribuan kali jatuh... namun tetap bangkit berdiri lagi; Tetapi semangat ini rasanya sudah banyak berkurang dan bahkan hilang, tidak mau untuk bangkit berdiri lagi setelah jatuh.
Marilah pada hari ini, kita bulatkan tekad untuk tetap bangkit berdiri, apapun "kejatuhan" yang menimpa kita. Senyumlah dan hadapi segalanya.

Senin, 02 Maret 2009

Insan Luar Biasa Seri II

Aku mencari kesempatan, bukan perlindungan
Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung, rendah diri dan terpedaya
Karena dilindungi pihak berkuasa (bait 2)
Seorang insan luarbiasa senantiasa mencari kesempatan, kesempatan adalah peluang. Memanfaatkan setiap peluang yang datang, bahkan selalu mencari peluang.... karena setiap peluang adalah kesempatan untuk hidup dan berkembang. Peluang dapat kita temukan di kantor, pabrik, halte bus, stasiun KA, ruang tunggu bandara, di setiap ruang-ruang publik bahkan di jalan-jalan kehidupan kita sehari-hari. Peluang tersebut dapat menjelma menjadi orang cacat yang tidak mampu lagi bekerja, tukang sapu jalan yang bekerja di tengah terik mentari atau guyuran hujan lebat, anak-anak jalanan yang mengais rizki dari tong-tong sampah (ini adalah peluang bagi kita untuk berbuat kebaikan, membagi energi positif). Peluang tersebut dapat pula menjelma menjadi orang jahat yang memfitnah kita, manusia bengis yang bahkan hampir mencelakakan kita (ini adalah peluang bagi kita untuk melatih ilmu memaafkan). Peluang dapat pula menjelma menjadi seorang ibu tua renta yang sedang berusaha menyeberang jalan, atau bahkan menjelma menjadi anak-anak di rumah yang butuh perhatian kita, orang tua kita yang sudah renta dan tak mampu lagi bergerak apalagi berjalan (Ya Allah, saya seringkali melupakan ini.... ampuni hambaMu ini Ya Allah). Peluang-peluang tercipta bagi kita dimana orang lain menghadapi "keterbatasan" (kita dapat menjadi mata, telinga, mulut bagi orang lain). Ada orang yang karena keterbatasan "mata"nya tidak dapat melihat segala keindahan dunia ini, kita dapat memilih untuk menjadi mata baginya. Ada orang yang tidak bisa mendengarkan nada-nada alam yang indah, kita dapat menjadi telinga baginya. Atau bahkan ada orang yang tidak mampu berucap apapun karena lidahnya kelu dan mulutnya tak bisa berbicara alias bisu, kita dapat menjadi mulut yang menyuarakan jeritan hatinya. Pada dasarnya, segala sesuatu di dunia ini tercipta menjadi peluang bagi kita bila kita mau memandangnya dari kacamata positif.
Tetapi kita juga melihat orang yang hidupnya senantiasa mencari perlindungan, selama sembilan bulan sepuluh hari didalam rahim ibu kita rupanya tidak cukup memberi perlindungan baginya. Masa kanak-kanak dia butuh perlindungan orang tua, masa remaja dia butuh perlindungan bahkan mungkin dari teman sahabat sebayanya. Namun demikian, sering terjadi setelah dewasa pun banyak dari mereka yang tetap mencari perlindungan, cari aman. Kita berkaca dari misalnya kesebelasan sepakbola kita, dimana para pemain belakang biasanya memberi safety first kepada kiper. Didalam bekerja, banyak orang mencari "cantolan" tempat bergantung, tempat berlindung.... tidak yakin dengan kompetensi diri yang dimilikinya. Bahkan tidak sedikit yang berlindung dengan menadahkan tangan tanpa berusaha sendiri, hidup dari belas kasihan orang lain, tidak mau capek, tidak mau kerja keras, mau enaknya sendiri (bahkan seringkali memanfaatkan rasa kasihan, rasa bersalah orang lain, bersikap sebagai drakula/vampir emosi yang menyedot emosi positif orang lain)
Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung..... siapa yang mengungkung kita selama ini? atasan, pimpinan, orang tua? Sesungguhnya yang mengungkung kita adalah "pikiran" kita, orang bijaksana mengatakan : "you are what you think" (anda adalah apa yang anda pikirkan). Seringkali kungkungan itu berbentuk : pendidikan kurang, orang tua miskin, isteri atau suami tidak mendukung dll. Nah, bila kita berpikir hal-hal tersebut maka kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan. Mau positif atau negatif, kitalah yang menentukan! Jangan serahkan kehidupan kita, kebebasan kita kepada faktor-faktor yang dari luar.
Rendah diri..... berbeda dengan rendah hati, rendah diri adalah faktor penghambat kemajuan kita (seringkali rendah diri adalah ekspresi dari "kesombongan" hati); Rendah diri muncul karena kita seringkali membanding-bandingkan diri kita, apa yang kita miliki dengan orang lain serta apa yang mereka miliki.
Terpedaya..... kalau kita sudah dikuasai dengan rasa rendah diri, maka kita akan senantiasa terpedaya olehnya, kita tertipu oleh fatamorgana kehidupan..... seolah-olah orang selalu bersikap mengecilkan diri kita.
Karena dilindungi pihak berkuasa...... nah, pihak berkuasa ini adalah pikiran kita sendiri (bukan penguasa pemerintahan, bukan penguasa sebagai atasan ditempat kerja.... bukan juga dosen atau rektor killer)
Jadi, marilah tundukkan diri kita hanya pada penguasa dari segala sesuatu yang berkuasa, Sang Maha Kuasa; Biarlah diri kita semakin kecil, sehingga KuasaNya akan semakin jelas terlihat. Lepaskanlah segala kungkungan yang selama ini memenjarakan kita, dan raihlah kebebasan berkehendak sebagai Insan Luar Biasa !!!!

Minggu, 01 Maret 2009

Isan Luar Biasa seri I

Aku tidak memilih menjadi insan biasa, memang hakku untuk menjadi luar biasa (bait pertama)
Sesungguhnya setiap insan manusia, sebagai makhluk mulia diberikan pilihan-pilihan hidup; Boleh memilih untuk menjadi orang-orang biasa atau menjadi luar biasa. Boleh memilih untuk hidup dengan semangat positif, menyebarkan kemuliaan, menjadi gardu energi positif Tuhan atau sebaliknya memilih untuk hidup dengan semangat negatif, menyebarkan energi negatif, menjadi "drakula emosi" (menurut istilah mas Jamil Azzaini) bagi sesama. Setiap saat, manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan. Abraham Lincoln (mantan presiden AS almarhum) pernah mengatakan :"Setiap manusia dapat berbahagia sebanyak diputuskan oleh pikirannya". Pikiran kitalah yang setiap saat dihadapkan pada pilihan-pilihan, untuk berbahagia atau menderita. Saat ini, pilihan ada ditangan kita, mau berbahagia atau menderita?
Memang hakku untuk menjadi luar biasa.....
Kuncinya adalah bahwa setiap orang dilahirkan sebagai insan luar biasa, pada saat seorang anak manusia dilahirkan pada saat itulah dia memproklamirkan lahirnya seorang "juara", seorang insan luar biasa. Dan itu adalah "hak" yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Masalahnya adalah bahwa begitu banyak orang yang justru tidak mempergunakan "hak" nya tersebut, dan kemudian memilih untuk menjadi insan biasa-biasa saja. Alhasil kita melihat bahwa SDM Indonesia kita dipenuhi setiap hari oleh insan-insan yang melangkah dan berjalan tak tentu arah, mencari-cari jalan hidupnya.... yang sesungguhnya sudah disuratkan jalan hidup insan luar biasa. Mereka menempuh jalan-jalan yang sudah biasa dilalui orang, jalan-jalan dimana begitu banyak orang berdesakan, berhimpitan, bersenggolan dan tidak jarang saling dorong, saling jegal terjadi. Insan-insan Luar Biasa akan memilih jalan yang jarang dilalui orang, berani mengambil resiko, berani membuka jalan baru (seperti dikatakan oleh seorang pujangga besar Robert Frost) dan itu adalah "hak"

Insan Luar Biasa

Sebuah perenungan "insan luar biasa" akan saya sajikan secara berseri setiap hari.
AKU TIDAK MEMILIH MENJADI INSAN BIASAOLEH : DEAN ALVANGE
Aku tidak memilih menjadi insan biasa,
Memang hakku untuk menjadi luar biasa
Aku mencari kesempatan bukan perlindungan
Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung,
rendah diri dan terpedaya karena dilindungi pihak berkuasa
Aku siap menghadapi resiko terencana,
berangan-angan dan membina untuk gagal dan sukses
Aku menolak menukar insentif dengan derma
Aku memilih tantangan hidup daripada derma
Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin
Kenikmatan mencapai sesuatu bukan utopia yang basi
Aku tidak akan menjual kebebasanku tidak juga kemuliaanku
Untuk mendapatkan derma
Aku tidak akan merendahkan diri pada sembarang atasan dan ancaman
Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani
Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri
Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri
Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata :
“Ini telah kulakukan!”
Segalanya ini memberikan makna seorang insan